SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kenaikan harga beras di pasar, khususnya di wilayah tengah dan timur Indonesia termasuk  Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendorong Perum Bulog Kantor Cabang Kotim mengusulkan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) agar kembali membuka penyaluran beras cadangan pemerintah (CBP) atau beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

"Bulog telah berkoordinasi dan melayangkan surat kepada Bapanas agar program SPHP dibuka kembali.  Alhamdulillah, Bapanas menyambut baik usulan ini," ungkap Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad, Sabtu, 14 Juni 2025.

Ia mengungkapkan Bulog hanya sebagai operator tidak berwenang mengeluarkankebijakan terkait beras cadangan tersebut. Tugas pihaknya menyiapkan barang dan mengkomunikasikan hal itu agar kebijakan penyaluran bantuan pangan dapat segera dirilis.

Fuad berharap dibukanya kembali program SPHP dapat meringankan beban masyarakat, terutama warga miskin dan kelas menengah, akibat kenaikan harga beras. 

"Beras SPHP sebelumya dijual dengan harga Rp 11.300 per kilogram dengan harga jual maksimal eceran tertinggi (HET) Rp 13.500 per kilogram," ujarnya. 

Sementara, stok beras di gudang Bulog Kotim tercatat sebanyak 5.000 ton, jumlah tertinggi yang pernah ada.  Stok ini sejalan dengan stok Bulog Nasional.

"Tapi sampai saat ini kami juga belum dapat mengeluarkan beras itu karena belum ada arahan dari Bapanas," jelas Fuad.

Ia menambahkan bahwa beras tersebut merupakan cadangan beras pemerintah yang telah direncanakan untuk program bantuan pangan dari Bapanas, seperti bantuan pangan untuk keluarga miskin.

"Beberapa hari lalu kami akan mengeluarkan surat peringatan penyaluran untuk kategori miskin dengan jatah dua bulan.  Di Kotim, bantuan pangan berdasarkan data tahun 2024 diperuntukkan bagi sekitar 20 ribu KK penerima.  Dengan jatah 10 kilogram per bulan per KK, ini akan mengurangi stok Bulog sehingga kami dapat menyerap gabah lagi," terang Fuad. (DEVIANA/H)