PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah berhasil mengumpulkan tandan dari 102 aksesi kelapa sawit, tim eksplorasi kini memasuki tahap penting dalam pemrosesan benih. Dari koleksi tersebut, sebanyak 84 aksesi bertipe Dura dan 18 aksesi bertipe Tenera menunjukkan karakteristik yang sangat beragam, dengan warna buah nigrescens dan virescens.

Keanekaragaman ini menjadi aset berharga dalam upaya pemuliaan kelapa sawit untuk meningkatkan kualitas dan produktivitasnya.

Menurut Dr Edy Suprianto, Ketua Tim Periset Eksplorasi SDG Tanzania dari PT Riset Perkebunan Nusantara, pemrosesan ini merupakan tahap kritis sebelum benih dapat digunakan dalam program pemuliaan kelapa sawit.

“Kami memastikan setiap benih yang dihasilkan memenuhi persyaratan karantina dan telah melalui serangkaian uji kualitas. Ini akan menjadi fondasi bagi pengembangan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan serta memiliki produktivitas tinggi,” ujar Dr Edy dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Sabtu, 14 Juni 2025.

Dengan serangkaian langkah yang telah dilakukan, benih hasil eksplorasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari inovasi dalam industri kelapa sawit Indonesia. Keanekaragaman genetik yang diperoleh dari Tanzania berpotensi meningkatkan ketahanan tanaman terhadap perubahan iklim dan serangan hama, serta mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit nasional untuk masa depan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

"Proses pengolahan tandan dilakukan secara manual guna memastikan kualitas benih yang dihasilkan tetap terjaga. Dari hasil pengolahan tersebut, sebanyak 83.004 butir benih diperoleh untuk tahap selanjutnya," jelas Dr Edy.

Namun, sebelum dapat digunakan dalam pemuliaan dan perakitan varietas unggul, benih tersebut harus menjalani serangkaian perlakuan dan pengujian sesuai persyaratan karantina yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Untuk memastikan keamanan dan kualitasnya, benih hasil eksplorasi terlebih dahulu dikirim ke Lembaga CABI – United Kingdom sebagai bagian dari intermediate quarantine. Di sana, benih menjalani pemeriksaan menyeluruh guna mengeliminasi potensi risiko penyakit dan memastikan kesesuaiannya dengan standar internasional sebelum dikirim kembali ke Indonesia.

"Saat ini, benih dalam tahap pemrosesan menjadi kecambah di PT Socfindo, sebuah perusahaan yang memiliki pengalaman luas dalam bidang produksi benih kelapa sawit," jelasnya.

Proses ini akan berlanjut dengan pengujian lebih lanjut melalui kegiatan pengasingan dan pengamatan selama proses pembibitan di bawah supervisi Badan Karantina Indonesia. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa benih yang dihasilkan memiliki daya tumbuh yang optimal serta bebas dari potensi kontaminasi. (TESTI PRISCILLA/H)