SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), optimistis pembangunan pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) medis akan segera terwujud.  Proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi daerah.

“Potensinya besar, tapi anggaran kita terbatas, makanya kita gandeng rekanan. Mohon doanya supaya semua berjalan lancar,” ungkap Pelaksana Tugas Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kotim, Rody Kamislam, Senin, 16 Juni 2025.

Ia menjelaskan, proses pembangunan pabrik terus  dievaluasi secara berkala.  Proyek ini sempat mengalami kendala dan batal pada tahun 2024 lalu akibat masalah perizinan, meskipun peletakan batu pertama sudah dilakukan di TPA Jalan Jenderal Sudirman.

Namun, Pemkab Kotim tidak menyerah.  Kerja sama kini dilakukan melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Hapakat Betang Mandiri dengan Nusa Suriamas Group SDN BHD asal Malaysia.  Rody menyatakan optimisme karena rekanan kali ini merupakan konsorsium tiga perusahaan berpengalaman dan memiliki kemampuan yang memadai.

“Rekanan kali ini merupakan konsorsium yang terdiri dari tiga perusahaan. Pemerintah daerah optimistis kali ini akan terwujud karena perusahaan tersebut sudah berpengalaman dan mempunyai kemampuan,” jelas Rody.

Lokasi pembangunan juga dipindahkan ke Kecamatan Mentaya Hilir Utara, yang dinilai lebih mudah dalam pengurusan perizinan karena masuk dalam rencana detail tata ruang (RDTR) sebagai kawasan industri. Studi kelayakan (FS) telah selesai, dan investor sedang memproses analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

“Kita buat target setiap tahapannya dan kita evaluasi bersama secara berkala sehingga tahu sampai di mana progresnya. Kalau pun ada kendala, maka bisa segera kita cari solusi bersama agar prosesnya kembali lancar,” tambah Rody.

Pembangunan pabrik akan dibiayai investor, sementara Pemkab Kotim menyediakan lahan dan membantu pengurusan perizinan.  BUMD akan mendapatkan bagi hasil keuntungan, yang diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kotim.

“Ini potensinya sangat besar karena akan menjadi yang pertama di Kalimantan Tengah. Kalau seluruh kabupaten/kota bekerja sama dengan kita dalam hal pengolahan limbah medis, maka hasilnya akan cukup besar. Selain itu juga akan ada dampak-dampak ikutannya dalam hal peluang usaha,” pungkas Rody. (DEVIANA/H)