BORNEONEWS, Palangka Raya - Subsektor tanaman perkebunan rakyat kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendongkrak Nilai Tukar Petani atau NTP di Kalimantan Tengah. Pada Mei 2025, NTP untuk subsektor ini tercatat mengalami peningkatan sebesar 0,36 persen, naik dari 162,15 pada April menjadi 162,73. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa kenaikan ini menandai tren positif bagi petani perkebunan di tengah dinamika harga komoditas global.
Agnes menjelaskan bahwa peningkatan NTP tersebut disebabkan oleh naiknya Indeks yang diterima petani atau It sebesar 0,26 persen, sementara Indeks yang dibayar petani atau Ib justru menurun sebesar 0,09 persen.
"Kondisi ini mencerminkan keuntungan yang relatif lebih baik bagi petani karena harga jual komoditas meningkat, sementara pengeluaran mereka sedikit berkurang," kata Agnes pada Selasa, 17 Juni 2025.
Kenaikan It ditopang oleh peningkatan indeks harga dua komoditas utama dari kelompok tanaman perkebunan rakyat, yakni karet dan kelapa. Menurut Agnes, harga karet terdongkrak oleh kombinasi faktor eksternal, antara lain menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah, tingginya permintaan pasar global, kondisi cuaca yang memengaruhi produksi, serta perubahan kebijakan negara konsumen utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat.
Sementara itu, harga kelapa meningkat akibat kelangkaan produksi, terutama untuk kelapa tua. "Ketersediaan kelapa tua yang berkurang turut mendorong kenaikan harga di pasar, sehingga memberi dampak positif bagi petani kelapa," jelas Agnes.
--page
Komoditas ini menjadi penyumbang penting dalam komposisi indeks penerimaan petani pada Mei 2025.
Di sisi lain, penurunan Ib sebesar 0,09 persen dipicu oleh turunnya dua komponen penyusunnya, yaitu indeks kelompok Konsumsi Rumah Tangga atau KRT sebesar 0,11 persen dan kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal atau BPPBM sebesar 0,02 persen. Hal ini berarti pengeluaran petani mengalami penurunan tipis, turut memperbaiki daya beli mereka.
Dengan capaian ini, Kepala BPS Kalimantan Tengah menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga komoditas dan memperkuat daya tawar petani perkebunan.
“Kami berharap tren positif ini terus berlanjut dan menjadi sinyal optimisme bagi kesejahteraan petani di Kalimantan Tengah,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/Y)









