BORNEONEWS, Sampit – Di tengah antrean panjang di sejumlah SPBU di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), isu kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax menyebar cepat di masyarakat. Kepanikan mulai terlihat. Namun, di balik keresahan itu, ada penjelasan logis dari pihak yang paling bertanggung jawab soal distribusi energi PT Pertamina Patra Niaga - Integrated Terminal Sampit.
Dalam rapat bersama Komisi II DPRD Kotim pada Selasa, 17 Juni 2025, Pertamina menjelaskan kondisi sebenarnya, sekaligus meluruskan asumsi yang berkembang. Klarifikasi ini menjadi titik terang dari polemik yang telah menimbulkan kekhawatiran warga selama beberapa hari terakhir.
“Distribusi Pertalite dan Pertamax di Kotim tetap berjalan normal sesuai kuota harian. Tidak ada pengurangan atau pembatasan,” kata perwakilan dari Divisi Pemasaran Pertamina Patra Niaga Sampit Farel.
Farel menyebut, kuota harian BBM untuk wilayah Kotim mencapai 366 kiloliter (KL) Pertalite dan 151 KL Pertamax. Semua tersalur sesuai permintaan SPBU tanpa hambatan teknis. Lalu, apa yang menyebabkan antrean panjang?
Menurut Farel, yang terjadi bukanlah kelangkaan, melainkan lonjakan konsumsi. Beberapa faktor seperti penurunan harga Pertamax di Juni 2025, mobilitas masyarakat yang meningkat saat Iduladha, hingga kebiasaan panic buying menjadi penyebab utama.
--page
“Ketika selisih harga Pertamax dan Pertalite semakin kecil, banyak masyarakat beralih ke Pertamax. Ini memperbesar permintaan. Ditambah lagi, adanya momentum libur panjang mempercepat habisnya stok di SPBU,” ujarnya.
Antrean pun tak terhindarkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, tangki berkapasitas 8.000 liter yang datang pagi hari bisa ludes sebelum siang. Meski pengisian ulang sore tetap dilakukan, kondisi tersebut tampak seperti kelangkaan bagi konsumen yang datang saat stok kosong.
Sebagai solusi, Pertamina mengoperasikan tiga Fuel Terminal di Sampit, Pangkalan Bun, dan Pulang Pisau selama 24 jam untuk sementara waktu. Tujuannya untuk mempercepat pengisian ulang tangki SPBU dan mengurangi waktu tunggu konsumen.
“Kami akan beroperasi 24 jam agar distribusi lebih cepat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Ini solusi jangka pendek untuk mengatasi lonjakan permintaan,” ucap Farel.
--page
Tantangan lain yang tak bisa dihindari adalah kondisi geografis Kalimantan. Surutnya air sungai kerap menghambat laju kapal pengangkut BBM menuju pelabuhan, termasuk di Sampit dan Pangkalan Bun.
“Jika sungai surut, pengiriman bisa terlambat. Ini terjadi di beberapa titik di Kalimantan Tengah, tidak hanya di Kotim,” tambah Farel.
Pertamina juga menegaskan komitmen untuk menindak praktik pelangsiran. Sistem barcode kendaraan, validasi pajak kendaraan aktif, serta pembatasan pembelian tidak wajar menjadi senjata utama mereka.
“Kami terus berupaya meminimalisir praktik pelangsiran, namun pengawasan tidak bisa kami lakukan sendiri. Diperlukan kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat dan SPBU. Jika ditemukan pelanggaran, akan ada konsekuensi tegas bagi SPBU yang terlibat,” tandasnya.
Sementara itu, Afif, Pengawas Operasional Integrated Terminal Sampit, memaparkan bahwa pasokan Pertamax ditingkatkan dari 151 KL menjadi 180 KL per hari, ditambah distribusi bantuan dari Pulang Pisau dan Pangkalan Bun sekitar 32 – 48 KL per hari.
Sementara BBM subsidi seperti Pertalite, kata Afif, tetap didistribusikan sesuai kebutuhan SPBU, tanpa pembatasan kuota atau pembagian. (DEWI PATMALASARI/Y)









