BORNEONEWS, Palangka Raya - Sepak bola adalah olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat, baik pria maupun wanita, di seluruh dunia. Di Indonesia, olahraga ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan pertandingan yang digelar di berbagai tingkatan, mulai dari kabupaten, provinsi, hingga nasional. Namun, tim sepak bola Kalimantan Tengah belum mampu menunjukkan eksistensinya secara maksimal di level nasional dan internasional.
Hal ini disampaikan Josep Harianja, mahasiswa Magister Pascasarjana Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Palangka Raya sebagai tugas Kajian Masalah Sosial di kampusnya.
"Pada tahun 2023, masyarakat dan pecinta sepak bola di Kalimantan Tengah, yang dikenal dengan sebutan Isen Mulang, menyaksikan peluncuran pemain Kalteng Putra yang disahkan secara langsung oleh CEO klub di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya. Acara ini menjadi momen penting bagi tim dan pendukungnya," kata Josep kepada Borneonews pada Kamis, 19 Juni 2025.
Komisaris Independen Bank Kalteng, M Rumbun B Untung, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Bank Kalteng akan memberikan dukungan penuh terhadap Kalteng Putra dalam laga Liga 2 pada tahun 2023. Komitmen ini menunjukkan perhatian besar terhadap pengembangan olahraga, tidak hanya sepak bola, tetapi juga cabang olahraga lain di Kalimantan Tengah.
Dalam teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, olahraga dilihat sebagai alat integrasi sosial yang memperkuat solidaritas, nilai-nilai bersama, dan identitas kolektif. Sepak bola berperan dalam memperkuat nasionalisme dan komunitas lokal. Sayangnya, saat ini tim sepak bola Kalteng Putra hampir tidak terlihat dalam berbagai kompetisi lokal maupun nasional.
"Sejumlah faktor menjadi kendala bagi perkembangan sepak bola di Kalimantan Tengah. Salah satunya adalah terbatasnya infrastruktur stadion dan fasilitas pelatihan. Beberapa stadion bahkan tidak memenuhi standar federasi sepak bola nasional, yang berdampak pada kualitas pertandingan dan perkembangan pemain," terang Josep lagi.
Selain itu, lanjutnya, pembinaan pemain muda masih minim. Tidak banyak akademi sepak bola berkualitas di Kalimantan Tengah, dan kurangnya kompetisi usia dini yang terstruktur menyebabkan pemain muda kesulitan berkembang. Kurangnya sistem pemantauan dan fasilitas juga membuat potensi pemain muda terabaikan.
"Masalah lain yang dihadapi adalah pengelolaan klub yang belum optimal, termasuk dalam hal pendanaan, organisasi, dan manajemen tim. Klub-klub lokal sering kesulitan mendapatkan sponsor serta dukungan penuh dari pemerintah daerah," kritiknya.
Di sisi lain, kompetisi sepak bola lokal belum cukup berkembang. Banyak tim di Kalimantan Tengah menghadapi kendala finansial dan kualitas pemain yang belum memungkinkan mereka berkompetisi di level yang lebih tinggi. Kurangnya turnamen berkualitas menyebabkan pengembangan tim dan pemain terhambat.
"Masyarakat Kalimantan Tengah juga belum sepenuhnya memberikan perhatian terhadap sepak bola. Meski ada beberapa pendukung setia, kecintaan terhadap sepak bola belum sekuat di daerah lain seperti Jawa dan Sumatera. Hal ini berdampak pada jumlah penonton dan dukungan terhadap tim lokal," katanya lagi.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu meningkatkan perhatian terhadap sepak bola melalui berbagai langkah. Pembangunan dan perawatan stadion serta fasilitas olahraga harus menjadi prioritas. Pembinaan pemain muda melalui akademi sepak bola dan kompetisi usia dini juga perlu ditingkatkan.
"Selain itu, dukungan finansial dari pemerintah dan sponsor sangat diperlukan, diikuti dengan peningkatan kepedulian masyarakat. Pelatih dan manajemen klub juga harus dipilih berdasarkan kompetensi, kejujuran, dan disiplin tinggi. Dengan upaya yang berkelanjutan, Kalteng Putra masih memiliki potensi besar untuk kembali bersaing di kancah sepak bola nasional dan internasional," tutup Josep. (TESTI PRISCILLA/j)









