PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (FKIP UMPR) menjalin kerja sama strategis dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Tengah dan Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Palangka Raya. Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan nilai-nilai pluralisme, moderasi beragama, serta pelestarian budaya lokal di lingkungan pendidikan dan masyarakat umum.

Dekan FKIP UMPR, Dr. (cand) Hendri, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama ini meliputi kegiatan pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Salah satu inisiatif konkret dari sinergi ini adalah rencana pembentukan laboratorium outdoor sebagai ruang praktik moderasi beragama dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.

"Kolaborasi ini juga menjadi bagian penting dari langkah FKIP UMPR dalam mengembangkan institusi, khususnya sebagai bagian dari proses pembukaan Program Doktor (S3) Pendidikan yang berorientasi pada kajian pluralisme, moderasi, dan budaya lokal," ujar Hendri.

Menurutnya, dukungan dari FKUB dan DAD sangat krusial, tidak hanya sebagai mitra kerja, tetapi juga sebagai penyangga nilai-nilai kebhinnekaan yang relevan dengan konteks lokal.

Langkah ini dinilai sebagai jawaban atas tantangan zaman, terutama dalam membangun kampus yang inklusif, menjunjung keberagaman, serta responsif terhadap isu-isu global melalui pendekatan berbasis budaya lokal.

Wakil Ketua FKUB Kalimantan Tengah, Pdt. Dr. Christianus Uda, M.Pd., menyambut baik inisiatif ini dan memberikan dukungan penuh terhadap Program Doktor Pendidikan yang dirancang oleh FKIP UMPR. Ia menilai program tersebut sangat relevan bagi masyarakat multikultural seperti Kalimantan Tengah.

“Kajian tentang pluralisme dan nilai-nilai lokal menjadi kebutuhan strategis dalam pendidikan kita hari ini,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Harian DAD Kota Palangka Raya, Dr. Mambang I. Tubil, M.A.P., menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian budaya Dayak. Ia menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai lokal dalam dunia akademik.

“Ini bukan hanya soal kerja sama kelembagaan, tetapi juga investasi nilai untuk membangun karakter dan toleransi dalam masyarakat yang majemuk,” tegasnya.