BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengajak seluruh Perusahaan Besar Swasta (PBS), khususnya di sektor perkebunan, untuk lebih aktif terlibat dalam program percepatan penurunan angka stunting di wilayahnya.
“Nanti saya akan kumpulkan Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) baik di Kotim atau di Jakarta, karena pimpinannya di Jakarta. Saya ingin semua perusahaan ikut terlibat dalam penanganan stunting, karena saat ini baru satu atau dua perusahaan saja yang aktif. Agar upaya kita lebih maksimal,” kata Halikinnor, Jumat, 20 Juni 2025.
Hal tersebut disampaikan saat membuka acara Rembuk Stunting dan peluncuran aplikasi Si Laras di Sampit, Jumat, 20 Juni 2025.
Halikinnor mengatakan penurunan angka stunting merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah daerah. Menurutnya, keterlibatan dunia usaha melalui program CSR sangat penting untuk mempercepat pencapaian target nasional stunting sebesar 14 persen pada 2025.
Saat ini, berdasarkan hasil pemantauan internal, angka stunting di Kotim menunjukkan penurunan cukup signifikan dari sebelumnya 35,5 persen menjadi 22 persen.
“Alhamdulillah, penurunan ini berkat kerja sama seluruh pihak baik pemerintah, masyarakat, dan perusahaan. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Ini pekerjaan berat dan harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya ibu hamil dan ibu balita, untuk rutin mengunjungi Posyandu. Hal ini penting agar tumbuh kembang anak bisa dipantau secara berkala dan kasus stunting bisa dicegah sejak dini.
“Minat ke Posyandu masih rendah. Saya minta warga untuk rutin datang ke Posyandu agar kondisi anak dan ibu hamil bisa terpantau. Kita ingin cegah stunting sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK),” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









