PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Senin pagi, 23 Juni 2025, yang biasanya tenang di Jalan Merak, Gang Poksay RT 08, Kelurahan Sidorejo, berubah menjadi momen yang tak akan dilupakan oleh Sahwono. Saat matahari mulai meninggi di langit Pangkalan Bun, ia berjalan santai ke arah kandang kambing miliknya yang terletak tak jauh dari rumah kosong peninggalan almarhum Pak Usup—bangunan tua yang telah lama tidak berpenghuni, berdiri diam di belakang gedung Pengadilan Negeri Pangkalan Bun.

Tak ada firasat buruk. Hanya rutinitas memberi makan ternak seperti hari-hari biasanya. Tapi hari itu, ada sesuatu yang berbeda.

“Saya mencium bau menyengat… banyak lalat juga di sekitar rumah kosong itu,” ujar Sahwono, dengan suara yang bergetar, mengenang detik-detik yang mengubah hidupnya.

Awalnya ia mengira ada bangkai kambing. Namun, rasa penasaran yang bercampur dengan kecemasan membuatnya mendekat. Ketika ia mencoba menelusuri sumber bau, langkahnya semakin berat. Curiga tak terbendung, ia memanggil putrinya, Tia, untuk melihat bersama-sama.

Pintu rumah kosong itu terbuka dengan suara berderit. Dan di dalamnya, tergantung tanpa nyawa, pria yang selama ini menjadi bagian keluarganya: IPI (nama inisial), menantunya, berusia 31 tahun.

Tia menjerit. Sahwono terdiam. Dunia seolah berhenti sesaat di hadapan pemandangan yang begitu memilukan.

“Kami pikir itu bangkai kambing… tapi ternyata menantu saya sendiri,” katanya pelan, menahan emosi.

Warga sekitar segera berdatangan. Kepolisian dari Polres Arut Selatan bergerak cepat menuju lokasi. Garis polisi dipasang. Proses olah tempat kejadian perkara dilakukan. Jasad IPI dibawa ke Rumah Sakit Sultan Imanuddin untuk divisum. Rumah kosong itu kini tak lagi hanya menyimpan kesunyian—tapi juga duka yang dalam.

Motif kematian IPI belum dapat dipastikan. Dugaan mengarah pada bunuh diri, namun pihak berwajib masih menyelidiki latar belakangnya. Di balik tragedi ini, banyak pertanyaan masih menggantung, sama seperti tubuh IPI yang ditemukan di rumah sunyi itu—sendiri, dalam diam yang menyesakkan.

Dan bagi Sahwono, pagi itu tak lagi sekadar memberi makan kambing. Ia menjadi saksi pertama dari kisah pilu yang bermula dari bau aneh, dan berakhir dengan kehilangan yang tak terbayangkan. (NURITA/J)