BORNEONEWS, Palangka Raya - Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk hidup dalam ketidakpastian. Itulah yang dialami oleh Almijan, warga Jalan Pelatuk 7 Kelurahan Palangka yang akhirnya akan dipulangkan dari Panti Sosial Dinas Sosial Jakarta setelah bertahun-tahun menjalani perawatan fisik dan psikis akibat kondisi hidup yang tidak layak di ibu kota.
Pada 2019, dalam razia yang dilakukan Satpol PP di Terminal Kramat Jati, Jakarta Timur, Almijan ditemukan dalam keadaan memprihatinkan.
Tubuhnya lemah, mentalnya terguncang, dan ia tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Dengan kondisi demikian, ia kemudian dibawa ke Panti Sosial untuk mendapatkan penanganan.
Di tempat itulah, selama 6 tahun, pihak Panti memberikan perawatan intensif hingga akhirnya pada 2025, dokter menyatakan bahwa kondisi fisik dan kejiwaan Almijan telah pulih. Namun proses panjang penyembuhan tersebut hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang masih menyisakan luka.
Tanggung jawab berikutnya jatuh kepada pihak Panti untuk mencari keluarganya agar Almijan dapat kembali ke kampung halaman.
Proses pencarian pun dilakukan hingga akhirnya alamat keluarga di Palangka Raya berhasil ditemukan, namun tantangan lain kembali muncul karena keluarga tak mampu membiayai pemulangannya.
Keterbatasan ekonomi memaksa keluarga mengungkapkan ketidakmampuan mereka untuk menjemput Almijan, meski rindu yang membuncah tak pernah hilang. Dalam kesunyian itulah, pihak Panti menghubungi Caritas Indonesia guna mencari jalan keluar atas masalah yang pelik ini.
Menanggapi permintaan tersebut, Caritas Indonesia segera bergerak. Mereka menghubungi Caritas Palangka Raya untuk memastikan kebenaran alamat dan keberadaan keluarga Almijan. Bantuan pun dikonfirmasi, tiket pemulangan akan diupayakan, dan seorang pendamping ditugaskan untuk menemaninya pulang.
Adalah Suster Kristina Fransiska, sosok lembut dari Caritas Indonesia yang akan mendampingi Almijan dalam perjalanan pulangnya ke Palangka Raya pada Kamis, 26 Juni 2025.
Kepada Borneonews, Senin, 23 Juni 2025 via WhatsApp, Suster Kristina tidak sekadar bertindak sebagai pendamping, namun juga pelipur lara bagi Almijan yang kini kembali memeluk harap.
“Tadi siang saya sudah bertemu dengan Pak Almijan,” ujar Sr Kristina dengan nada sendu dalam telepon. “Dia sudah semangat waktu saya bilang... saya antar bapak pulang.” Tatapan kosong Almijan berubah menjadi pancaran hangat saat ia mengingat kembali nama-nama orang terkasih, kakaknya, abang iparnya, dan keponakan-keponakannya.
Bagi seorang yang telah lama terputus dari akar kehidupannya, sekadar menyebut nama keluarga adalah harapan yang nyaris padam namun tak pernah benar-benar hilang. Meski wajah-wajah itu kini mungkin telah berubah, namun kenangan mereka tetap menjadi pelita di hati Almijan.
Kisah Almijan adalah cermin dari banyaknya mereka yang terpinggirkan di sudut-sudut kota besar. Bahwa di balik deru metropolitan, masih ada sosok-sosok yang harus berjuang sendiri, tanpa perlindungan dan kepastian. Namun hari ini, setidaknya satu di antaranya, menemukan jalan pulang.
"Saya tadi juga minta Pak Almijan berdoa salat 5 waktu jangan lupa agar rencana pulang dan perjalanan menuju ke Palangka Raya lancar," tutur Sr Kristina lagi.
Dengan langkah tertatih namun pasti, Almijan akan menginjak tanah kelahirannya kembali. Ia tak membawa harta, namun membawa harapan,bahwa tak peduli seberapa lama dan berat jalannya, rumah tetaplah tempat di mana hati ingin pulang.(TESTI PRISCILLA/R)









