BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP turut ambil bagian dalam perhelatan Palmex Indonesia 2025. Mengusung tema “Palm Oil 4.0: Digitalization for a Sustainable Industry”, acara ini menjadi penampilan perdana Palmex di Jakarta setelah sebelumnya rutin digelar di Medan, Sumatera Utara.
Palmex Indonesia edisi ke-15 ini dibuka secara resmi oleh Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ardi Praptono yang mewakili Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Heru Tri Widarto. Dalam sambutannya, Ardi menekankan pentingnya digitalisasi dalam mendukung industri sawit yang berkelanjutan dan inklusif.
Sebagai salah satu peserta aktif, BPDP menghadirkan inovasi produk turunan sawit dari mitra usaha kecil, mikro, dan koperasi (UKMK). Produk-produk yang ditampilkan berasal dari CV Smart Batik Indonesia, CV Rumah Tamadun, Koperasi Sawit Setara APKASINDO, serta Koperasi Pondok Pesantren Al-Amin Dumai. Mereka memperlihatkan keragaman dan potensi industri hilir sawit yang terus berkembang.
Salah satu sorotan utama datang dari inovasi Batik Sawit yang dikembangkan oleh CV Smart Batik Indonesia. Produk batik yang menggunakan malam berbahan dasar sawit ini tak hanya menarik perhatian pengunjung, namun juga mencuri minat media dan tokoh industri. Melalui sesi demo interaktif, pengunjung diberi kesempatan langsung untuk mencoba membatik menggunakan malam sawit.
Kehadiran produk Batik Sawit turut menyita perhatian dari sejumlah pelaku industri ternama seperti APICAL, PTPN, dan Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia atau GPPI. Ketua Umum GPPI, Dr. Ir. Delima Hasri Azahari, MS, bahkan secara langsung mencoba teknik mencanting dan membeli hasil batik yang dipamerkan.
Delima memberikan apresiasi tinggi terhadap karya batik sawit dan menyambut baik gagasan pengembangan batik perkebunan yang diinisiasi oleh Smart Batik.
“Bagus, bagus sekali, insyaa Allah kita kembangkan batik perkebunan,” ungkapnya usai menyimak penjelasan dari CEO Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan dalam rilisnya pada Selasa, 24 Juni 2025.
Merespons dukungan tersebut, Ihsan menyampaikan rasa bahagianya dan berkomitmen memperluas cakupan inovasi batik berbasis tanaman perkebunan.
“Luar biasa, kami semakin mantap untuk mengembangkan batik perkebunan, bukan hanya sawit, tetapi akan masuk ke tanaman-tanaman perkebunan lainnya,” ujar alumni penerima beasiswa Bidikmisi dan LPDP itu.
Palmex Indonesia 2025 tak hanya menjadi ajang pamer teknologi dan inovasi digital dalam industri sawit, tetapi juga membuktikan bahwa nilai tambah produk sawit dapat diwujudkan secara inklusif melalui pemberdayaan UKMK. Kiprah BPDP dan para mitranya menjadi bukti nyata transformasi industri sawit yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. (TESTI PRISCILLA/j)









