SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Tangis haru menyelimuti  saat ratusan jemaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tiba di Bandara H Asan Sampit setelah menunaikan rukun Islam kelima. Satu per satu jemaah turun dari pesawat dan langsung disambut pelukan keluarga yang telah menanti sejak pagi di terminal kedatangan.

Kedatangan para tamu Allah tersebut menjadi momen penuh emosi. Suara tangis bahagia, takbir, dan lantunan doa menyatu dalam suasana yang sakral. Sebanyak 215 jamaah haji tiba dalam dua trip penerbangan khusus yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Kotim. Mereka sebelumnya menempuh perjalanan udara dari Mekkah ke Embarkasi Banjarmasin, lalu melanjutkan perjalanan menuju Sampit menggunakan pesawat carter.

Bupati Kotim Halikinnor turut menyambut kepulangan para jemaah haji di Bandara H Asan Sampit. Ia menyampaikan rasa syukur karena jemaah dapat kembali dalam kondisi sehat dan selamat.

"Alhamdulillah, kita menyambut kedatangan jemaah haji Kotim yang melalui Embarkasi Banjarmasin. Dua trip penerbangan membawa mereka kembali dalam keadaan sehat walafiat. Kita doakan mereka menjadi haji dan hajjah yang mabrur dan membawa keberkahan di tengah masyarakat," ujar Halikinnor, Rabu, 25 Juni 2025.

Meski demikian, duka menyelimuti karena satu orang jamaah, Ramlah (73), wafat di Tanah Suci setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah. Ia dimakamkan di Mekkah, dan sesuai ketentuan, pihak keluarga akan menerima santunan.

Lanjut Halikinnor, kepulangan para jamaah bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab moral sebagai haji dan hajjah yang diharapkan menjadi panutan di lingkungan masing-masing.

“Kami harap para jemaah bisa menjadi contoh yang baik di masyarakat,” tutupnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Kotim, Rihel, menjelaskan bahwa dari total 216 jemaah yang berangkat, 215 orang kembali ke Sampit, dengan tujuh di antaranya menggunakan kursi roda karena kondisi fisik yang lanjut usia.

“Secara umum mereka dalam kondisi sehat. Keluhan yang muncul seperti batuk dan bibir kering itu karena perbedaan suhu di Mekkah. Ada yang panas, ada yang sangat dingin, dan itu memengaruhi daya tahan tubuh, terutama para lansia,” ungkap Rihel.

Salah satu jemaah haji Kotim Sutoyo membagikan pengalamannya selama menjalani ibadah haji. Ia bersyukur semua rangkaian ibadah berjalan lancar, namun juga menyampaikan harapan agar penyelenggaraan haji ke depan dapat lebih memperhatikan aspek kenyamanan.

“Saya sangat terharu, haji ini bukan hanya soal ibadah, tapi juga perjalanan rohani yang penuh ujian. Pemerintah sudah baik dalam mengelola, tapi ada beberapa hal teknis yang bisa ditingkatkan. Misalnya, jumlah toilet untuk jamaah wanita perlu ditambah, karena penggunaannya lebih lama dibanding pria,” tuturnya.

Dirinya juga menyoroti pentingnya mendaftar haji sejak usia muda. Sebab ia harus menunggu 12 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji. "Kalau usia sudah tua, tenaga dan stamina kita terbatas. Haji ini harus dengan fisik yang kuat, jadi saya harap anak-anak muda mulai mendaftar sejak sekarang,” tambahnya.

Di balik pelukan haru dan derai air mata, tersimpan kisah spiritual yang akan terus dikenang para jamaah haji Kotim. Mereka pulang bukan hanya membawa oleh-oleh dan cerita, tetapi juga pengalaman iman yang mendalam, bekal untuk menjadi manusia yang lebih baik. (DEWI PATMALASARI/j)