SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Krisis keterbatasan ruang belajar (rombel) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali mencuat ke permukaan. Setiap tahun ajaran baru, kisruh penerimaan siswa di sekolah negeri menjadi sorotan.

Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang Siswanto, angkat bicara soal peliknya persoalan ini dan mendesak percepatan pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kotim sebagai solusi nyata.

“Permasalahan ini terus berulang. Krisis rombel khususnya di sekolah negeri menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah pendaftar dan daya tampung sekolah. Akibatnya, muncul kegaduhan bahkan dugaan praktik-praktik tak sehat di sekitar proses penerimaan siswa,” ujar Dadang, Kamis, 26 Juni 2025.

Kebutuhan akan ruang belajar sudah sangat mendesak dan pembangunan unit sekolah baru di Sampit merupakan langkah yang tak bisa ditunda lagi.

Salah satu harapan baru yang muncul untuk menanggulangi krisis ini adalah rencana pembangunan MAN 2 Kotim. Lokasi sudah tersedia, yakni di wilayah Lingkar Utara, dengan lahan yang telah dihibahkan oleh warga.

“Kami sudah berkali-kali mengajukan pembangunan sekolah baru ke Pemerintah Provinsi, tapi belum juga terealisasi. Sementara itu, dari pihak Kementerian Agama dan pihak MAN sendiri sudah menyatakan kesiapannya,” kata Dadang.

Menurutnya, warga yang menghibahkan tanah tersebut secara spesifik ingin lahannya digunakan untuk pembangunan sekolah menengah atas sederajat berbasis Islam. Bahkan, menurut informasi yang ia terima, pihak MAN telah mengirim surat resmi kepada Bupati Kotim sebagai bentuk tindak lanjut dan keseriusan rencana pembangunan tersebut.

“Yang menghibahkan tanah ingin sekali di lokasi itu berdiri MAN 2. Harapan kita, Pemkab dan Pemprov menghargai niat baik ini dengan menindaklanjuti prosesnya. Ini bukan sekadar soal fasilitas, tapi soal masa depan pendidikan anak-anak kita,” tuturnya. 

Dadang menyebut, saat ini pihak MAN tengah berupaya mencari sumber pendanaan, termasuk dari pusat, agar rencana pembangunan MAN 2 bisa dimulai paling lambat tahun depan. Ia pun optimistis, dengan dukungan semua pihak, krisis rombel yang menahun di Sampit bisa segera diatasi.

“Informasi yang saya terima, pihak MAN siap berjuang mencari anggaran sampai ke Jakarta. Targetnya, tahun depan sudah mulai ada progres pembangunan, entah itu tahap awal atau peletakan batu pertama,” tambahnya. 

Selain mendorong percepatan pembangunan MAN 2, Dadang juga menekankan perlunya strategi jangka panjang dalam mengatasi persoalan pendidikan di Kotim. Ia menyebut, keberadaan sekolah swasta tetap penting, namun tidak bisa menjadi satu-satunya tumpuan.

“Untuk Sampit tidak ada rumus lain bahwa Sampit ini kekurangan sekolah dengan tidak mengesampingkan keberadaan sekolah swasta. Tapi kalau untuk sekolah negeri, Sampit kekurangan ruangan sekolah untuk bisa mengakomodir anak didik di Sampit,” pungkasnya.

Dengan populasi yang terus bertambah dan antusiasme masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, pembangunan unit sekolah baru seperti MAN 2 Kotim diharapkan bisa menjadi titik terang dari krisis ruang belajar yang selama ini membelenggu kota Sampit. (DEWI PATMALASARI/R)