BORNEONEWS, Palangka Raya - Saat langit Juli 2020 memayungi langit Kalimantan Tengah dengan mendung, Apriantoko, 33 tahun, duduk di teras rumahnya bersama istri. Di depan mereka, selembar kertas tagihan biaya masuk sekolah anaknya terbentang. Jumlahnya tidak besar bagi sebagian orang, namun cukup membuat napas mereka tertahan. Gaji bulanan yang pas-pasan, ditambah cicilan rumah dan kebutuhan dapur, serta hempasan Covid-19 membuat mereka memutar otak keras: dari mana uang sebanyak itu didapat?
Tatapan Agung dan istrinya akhirnya berhenti pada satu benda yang selama ini mereka jaga dengan penuh cinta: cincin pernikahan. Sebuah simbol ikatan sakral yang telah melewati tahun-tahun suka dan duka.
“Kita gadaikan saja dulu. Ini cuma sementara,” ucap Apri perlahan, menahan getaran di suaranya.
Sang istri mengangguk, meskipun air matanya mulai membasahi pipi.
Tanpa banyak pilihan, keesokan harinya mereka menuju kantor Pegadaian. Di ruang layanan yang sejuk dan tenang, cincin itu diletakkan di atas meja. Petugas menyambut dengan ramah dan menjelaskan proses gadai dengan sabar. Tidak ada tekanan, tidak ada penilaian, hanya solusi yang ditawarkan untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Dalam waktu singkat, mereka pulang dengan dana yang cukup untuk membayar biaya sekolah sang anak.
Dan cincin itu? Ia masih ada, hanya sedang menunggu untuk ditebus kembali.
Hal ini diceritakan Apri kepada Borneonews pada Kamis, 26 Juni 2025 mengenai salah satu pengalaman hidup yang membentuk persfektifnya di masa depan.
Beberapa tahun berlalu. Selama ini dia hanya membayar bunga untuk memperpanjang masa gadai sehingga cincin itu tidak akan hilang. Tidak banyak, hanya 8 persen per 120 hari atau beberapa ratus ribu per empat bulan. Akhirnya di tahun 2025 Apri menebus kembali cincinnya setelah kondisi keuangan sedikit membaik. Namun pengalaman menggadaikannya tak lekas pergi dari benaknya. Ia merasa ada pelajaran berharga yang tertinggal dari proses itu—tentang tanggung jawab, perencanaan, dan nilai waktu. Sejak saat itu, Apri mulai belajar lebih banyak mengenai investasi emas.
Sejak saat itu, Agung mulai mempelajari cara kerja investasi emas, dan pada 2025 ia mulai rutin menabung emas melalui Aplikasi Pegadaian Digital. Setiap bulan, ia sisihkan sebagian dari pendapatannya, seratus ribu hingga dua ratus ribu rupiah, agar kelak tak perlu lagi menggadaikan barang berharga dalam keadaan darurat.
“Dulu saya kira emas hanya untuk perhiasan. Sekarang saya paham, ini bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Sekarang saya tidak hanya punya cincin pernikahan kami kembali, tapi juga cadangan emas yang Kisah itu kemudian ia bagikan kepada tetangganya, Delerin. Suatu sore di teras rumah, ditemani secangkir kopi, Apri menceritakan pengalamannya dengan Pegadaian. Sebuah kisah sederhana namun penuh makna, yang menyingkap nilai pilihan bijak di masa sulit. Cerita itu mengalir ringan tapi menyentuh. Ia bercerita bagaimana keputusan menggadaikan cincin bukan hal mudah, namun sangat berarti. Ia pun dengan semangat menjelaskan bagaimana kini ia rutin menabung emas seratus ribu, dua ratus ribu per bulan—“yang penting konsisten,” katanya.
Delerin mendengarkan dengan mata berkaca. Di ujung cerita, ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Saya dan suami juga pernah mengalami hal itu, Mas. Tapi kami tidak sebijak kalian.”
Ia menceritakan bagaimana, usai memutuskan pindah dari rumah orang tua ke rumah baru, mereka menghadapi kesulitan keuangan. Beban cicilan rumah, kebutuhan harian, serta kebutuhan kedua anaknya membuat mereka kewalahan. Dalam keputusasaan, mereka memilih menjual cincin pernikahan mereka.
“Waktu itu saya tidak terpikir untuk menggadaikan saja. Kami langsung menjual. Dan sekarang—meskipun hidup sudah lebih baik—cincin itu tidak pernah kami ganti. Rasanya... tidak bisa diganti.”
Nada penyesalan terdengar jelas. Bukan karena nilai materi, tapi karena nilai emosional yang terlanjur hilang. Sebuah simbol perjalanan hidup yang tak tergantikan kini hanya jadi kenangan.
Cerita Apri dan Delerin adalah potret nyata dari dua pilihan hidup: menjual atau menggadaikan. Meskipun keduanya diawali dengan kondisi sulit yang sama, namun hasil akhirnya sangat berbeda. Pegadaian hadir sebagai solusi finansial yang bukan hanya menawarkan uang, tapi juga menjaga nilai sentimental yang kerap kali tidak bisa dibeli kembali.
“Waktu kita pinjam ke Pegadaian, kita tetap punya harapan untuk mendapatkan barang kita kembali. Pegadaian bukan tempat putus asa, tapi tempat memulai langkah baru,” ujar Apri dengan nada yakin.
Aplikasi Pegadaian, yang kini dapat diakses melalui gawai siapa saja, semakin memudahkan masyarakat dalam mengelola keuangannya. Tak perlu antre, tak perlu khawatir kehilangan harta berharga, dan yang terpenting—selalu ada ruang untuk kembali.
Sejak rutin menabung emas, Apri mulai menyadari bahwa literasi keuangan adalah kunci keberlanjutan. Ia tak hanya menabung untuk dirinya sendiri, namun mulai mengajak komunitas kecil di lingkungannya untuk mempelajari investasi emas lewat diskusi ringan. Ia sering kali mengutip pengalamannya saat menggadaikan cincin, bukan untuk memamerkan, tapi agar orang-orang tahu: tidak ada yang salah dengan menggadai, asal tahu tujuannya.
“Dulu kesannya kalau menggadaikan itu malu ya, sembunyi-sembunyi tidak mau orang-orang tau, tapi sekarang kok saya senang cerita ke teman-teman. Apalagi setelah tau teman saya menyesal sekali memilih menjual daripada menggadaikan, saya merasa bersalah kenapa tidak cerita ke mereka dari dulu,“ jelas Apri lagi.
Kisah ini bukan tentang emas semata, melainkan tentang bijak mengambil keputusan di tengah keterbatasan. Tentang bagaimana sebuah lembaga seperti Pegadaian bisa menjadi jembatan antara krisis dan harapan, antara kehilangan dan pemulihan.
Apri dan istrinya kini tidak hanya memiliki cincin pernikahan kembali, tapi juga tabungan emas sebagai bekal di masa depan. Sementara Delerin, perlahan merangkai kembali langkahnya dengan kesadaran baru—bahwa pilihan tepat di masa sulit bisa menyelamatkan nilai yang tak tergantikan. (TESTI PRISCILLA/j)









