BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Yuliansah Andrias, menyatakan bahwa budaya makan ikan tidak hanya penting dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga merupakan bagian dari strategi ekonomi dalam meredam inflasi pangan di daerah.
“Makan ikan bukan hanya soal gizi untuk mencegah stunting, tetapi juga strategi ekonomi karena bisa membantu menstabilkan harga pangan. Ketika masyarakat mengonsumsi ikan lokal hasil budidaya atau tangkapan sendiri, ketergantungan terhadap komoditas pangan lain berkurang,” ujar Yuliansah, Kamis, 26 Juni 2025.
Menurutnya, ikan sebagai sumber protein hewani memiliki keunggulan karena mudah dibudidayakan, memiliki nilai gizi tinggi, dan lebih terjangkau dibandingkan beberapa sumber protein lainnya.
Jika dikembangkan secara optimal, sektor perikanan lokal bisa menjadi penyangga utama ketahanan pangan sekaligus alat kendali inflasi.
Yuliansah menambahkan bahwa Bank Indonesia mendukung penguatan sektor perikanan, baik dari sisi konsumsi maupun produksi, termasuk melalui program pemberdayaan UMKM, pelatihan, dan dukungan terhadap sistem distribusi pangan lokal yang efisien.
“Kami mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengonsumsi ikan, tapi juga ikut dalam kegiatan budidaya, karena ini berkontribusi langsung terhadap perekonomian rumah tangga serta kestabilan harga pangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem perikanan akan menciptakan multiplier effect, mulai dari penyediaan pakan, tenaga kerja, hingga distribusi dan pengolahan produk hasil perikanan.
“Kita bicara soal gizi, soal ekonomi, dan soal kemandirian pangan. Jadi, makan ikan adalah langkah strategis yang mencakup banyak aspek,” pungkasnya. (MARINI/j)









