PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Komisi A DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan atas inisiatifnya menggelar sosialisasi deteksi dini kanker leher rahim (serviks) menggunakan metode HPV DNA.

Hal ini disampaikan oleh anggota Komisi A DPRD Kobar dari Fraksi PDIP, Mina Irawati. Sosialisasi tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam upaya menurunkan angka kematian akibat kanker serviks yang masih tinggi di Indonesia.

“Kegiatan sosialisasi ini merupakan bentuk perhatian serius terhadap kesehatan perempuan, khususnya dalam menekan angka kematian akibat kanker serviks yang jumlahnya masih cukup tinggi,” ujar Mina Irawati, Kamis, 26 Juni 2025.

Ia menjelaskan bahwa metode HPV DNA merupakan teknik diagnostik modern yang lebih akurat untuk mendeteksi keberadaan DNA Human Papillomavirus (HPV) dalam sel serviks. Tes ini dapat mengidentifikasi jenis HPV berisiko tinggi yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

“Dengan kita melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim ini diharapkan dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi angka kematian akibat kanker serviks, apalagi dengan metode HPV DNA yang lebih canggih dan efektif,” tuturnya.

Mina juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya perempuan usia subur, untuk secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi sebagai bentuk pencegahan.

“Melalui sosialisasi ini masyarakat dapat memahami pentingnya deteksi dini. Kami harap informasi yang diberikan benar-benar dimanfaatkan dan menjadi motivasi untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah daerah untuk terus mengembangkan kegiatan serupa, serta memperkuat fasilitas layanan kesehatan yang dapat menunjang pencegahan dan penanganan kanker serviks.

“Kami pun mendorong pemerintah daerah untuk terus melakukan kegiatan sosialisasi serta penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai untuk penanganan kanker serviks ini. Termasuk juga, pemerintah diharapkan berupaya mempercepat eliminasi kanker serviks melalui berbagai program seperti skrining dan imunisasi HPV,” tegasnya.

Politisi PDIP ini juga menyampaikan bahwa berdasarkan data nasional, kanker leher rahim dan kanker payudara merupakan dua jenis kanker terbanyak yang diderita perempuan di Indonesia. Tercatat, jumlah kasus kanker payudara mencapai 65.858 atau 16,6 persen dan kanker serviks sebanyak 36.633 kasus. Namun, ia optimis dengan kemajuan teknologi saat ini, angka kematian bisa ditekan.

“Dengan kemajuan teknologi, 30 sampai 50 persen kematian akibat kanker masih bisa dicegah. Caranya adalah dengan menghindari faktor risiko dan melakukan deteksi dini secara berkala,” pungkasnya. (DANANG/H)