PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah enam tahun menjalani hidup di panti sosial Jakarta Barat, Almijan akhirnya kembali menginjakkan kaki di kampung halamannya, Jalan Pelatuk 7, Kelurahan Jekan Raya, Palangka Raya. Perjalanan pulang penuh haru ini terlaksana berkat pendampingan Caritas Indonesia yang turut memfasilitasi proses pemulangan serta memastikan kondisi Almijan selama perjalanan dari Jakarta.

Ditemukan dalam kondisi terlantar di Terminal Kampung Rambutan pada tahun 2019, Almijan kala itu sempat mencari pekerjaan di ibu kota bersama dua temannya dari Garut dan Bandung. Namun, di hari ke-21, ia ditinggalkan sendirian dan kemudian terjaring razia Satpol PP yang mengantarkannya ke Panti Sosial Cipayung, lalu dipindahkan ke Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3 Daan Mogot, Jakarta Barat.

Enam tahun berlalu, Almijan dinyatakan pulih secara fisik dan psikis. Namun biaya pemulangan menjadi kendala besar bagi keluarganya yang tinggal di Palangka Raya. Di sinilah Caritas Indonesia mengambil peran penting: menghubungi Caritas Palangka Raya untuk menelusuri alamat keluarga dan memfasilitasi proses pemulangan, termasuk mendampingi langsung selama perjalanan.

Adalah Suster Kristina Fransiska dari Caritas Indonesia yang dengan penuh kasih mendampingi Almijan pulang ke tanah kelahirannya.

“Saya masih belum percaya, benar ini Suster mau antar saya. Masih belum percaya ini benar terjadi,” ucap Almijan dengan mata berkaca-kaca saat di mobil menuju rumahnya usai dijemput di Bandara Tjilik Riwut oleh Ketua Komisi PSE Caritas Keuskupan Palangka Raya, Pastor Danang Widhi Anggoro pada Kamis sore, 26 Juni 2025.

Ia bahkan menunda mengganti baju, masih mengenakan seragam panti hingga Suster Kristina benar-benar hadir di hadapannya tadi pagi. Ia takut kalau itu hanya mimpi dan ia menjadi kecewa. Ternyata Suster Kristina yang membidangi Tindak Pidana Perdagangan Orang, Perantau dan Orang Terlantar ini benar-benar datang menjemputnya.

--page

Sebelum berangkat, pihak panti sempat mengadakan perpisahan sederhana dengan mengajak Almijan berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah, kenangan manis sebelum mengakhiri babak panjang kehidupannya di panti.

“Di pesawat saya nggak bisa tidur, pengen cepat-cepat ketemu keluarga,” tutur Almijan sesampainya di Palangka Raya.

Dalam perjalanan dari bandara ke rumah, Almijan lebih banyak diam. Ia belum sepenuhnya yakin bahwa perjumpaan dengan keluarga bukan sekadar mimpi. Campuran perasaan bahagia, cemas, dan syukur memenuhi wajahnya yang lelah namun penuh harap.

Perjalanan ini tak hanya membawa Almijan pulang secara fisik, tapi juga memulihkannya secara batin berkat pendampingan yang manusiawi dari Caritas Indonesia. Di balik layar, para relawan dan petugas sosial bekerja tanpa pamrih agar satu jiwa yang lama terlupakan bisa kembali pulang dengan martabat.

Pada akhirnya, dukungan konkret juga datang dari Anggota DPR RI Dapil Kalteng, Sigit K Yunianto, yang turut membantu pembiayaan pemulangan Almijan. Bantuan ini melengkapi upaya Caritas, membuktikan bahwa kolaborasi antara lembaga sosial dan pemerintah dapat menghadirkan harapan baru bagi mereka yang terlupakan. (TESTI PRISCILLA/Y)