BORNEONEWS, Palangka Raya - Di balik lalu lintas padat Jakarta, di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang, hidup seseorang yang perlahan menghilang dari ingatan, mungkin juga dari ingatan keluarga. Namanya Almijan. Enam tahun lalu, ia hanyalah satu dari sekian banyak jiwa yang tersesat di terminal Kramat Jati, setelah dua temannya meninggalkannya begitu saja di hari ke-21 dari pencarian kerja di Ibu Kota.
Nasib membawanya ke tangan Satpol PP dalam razia rutin. Dari sana, ia dibawa ke Panti Sosial Cipayung, lalu berpindah-pindah ke tiga panti lain karena satu alasan sederhana namun krusial, tidak adanya identitas diri.
“Kalau saat itu identitasnya sudah ada, mungkin pemulangannya tidak perlu selama ini,” tutur Suster Kristina Fransiska, pendamping dari Caritas Indonesia.
Di balik raut wajah tenang dan suara lembutnya, Suster Kristina menyimpan banyak kisah pilu tentang mereka yang terlantar. Tapi Almijan punya tempat tersendiri. Selama enam tahun, ia hidup dengan pendampingan medis dan pengobatan rutin untuk kecemasan dan trauma. Obat yang kini akan dilanjutkan pemantauannya oleh Dinas Sosial Palangka Raya.
"Saya masih belum percaya ini benar-benar terjadi," kata Almijan ketika dijemput untuk penerbangan pulangnya.
--page
Ia mengenakan seragam panti yang sama sejak pagi, bersikeras tak mau mengganti baju sebelum benar-benar bertemu Suster. Sebelum hari keberangkatan, pihak panti mengajaknya ke Taman Mini Indonesia Indah, kenangan sederhana sebagai bentuk perpisahan dari tempat yang diam-diam telah menjadi rumah kedua.
Selama perjalanan udara, Almijan mengaku tak bisa tidur. Rasa haru dan kegelisahan menari-nari dalam dadanya.
“Pengen cepat-cepat ketemu keluarga,” ucapnya lirih.
Tapi sesampainya di mobil menuju rumah, ia lebih banyak diam. Seolah menunggu satu isyarat bahwa semua ini nyata.
Caritas Indonesia tak hanya memulangkan seseorang secara fisik, mereka mengembalikan harga diri, harapan, dan hak untuk merasa utuh sebagai manusia. Dengan kerja tenang namun mendalam, mereka menghubungi Caritas Palangka Raya, memverifikasi alamat keluarga, hingga mendampingi secara langsung dalam perjalanan pulang.
Bantuan konkret juga datang dari Anggota DPR RI Dapil Kalteng, Sigit K Yunianto, yang membiayai pemulangan Almijan. Tapi jauh sebelum tiket dipesan atau pintu rumah dibuka, langkah pertama menuju rumah telah dimulai dari hati para pendamping yang percaya: setiap orang layak punya kesempatan untuk pulang, tak peduli seberapa lama ia tersesat. (TESTI PRISCILLA/Y)









