BORNEONEWS, Sampit - Hari kedua kegiatan Temu Orang Muda Katolik atau OMK se-Dekenat Kotawaringin Timur berlangsung semarak dengan digelarnya seminar bertema “OMK Itu Peka Sosial, Bukan Cuek Sosial” di Gereja Katolik St. Joan Don Bosco, Sabtu, 28 Juni 2025.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai paroki, yang antusias mengikuti sesi demi sesi untuk memperdalam pemahaman mereka tentang peran sosial kaum muda dalam Gereja dan masyarakat.
Seminar menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya adalah Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi atau PSE Keuskupan Palangka Raya, Pastor Alfonsus Danang Widhi Anggoro.
Selain itu, narasumber lainnya, Suster Kristina Fransiska dari Caritas Indonesia Bidang Migrasi dan Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO, mengajak OMK untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika sosial, tetapi turut aktif menjadi pelayan kasih.
Ia menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh Gereja.
“Caritas tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh keterlibatan orang muda yang punya semangat, tenaga, dan kepedulian,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Suster Kristina juga membagikan pengalaman Caritas Indonesia dalam menangani kasus-kasus migrasi dan perdagangan orang.
Ia menekankan bahwa banyak persoalan sosial yang membutuhkan kehadiran OMK sebagai relawan, pendamping, maupun penyebar informasi yang benar.
“Saat ini kami banyak menangani kasus migrasi yang secara tidak sadar masuk dalam tindak pidana perdagangan orang karena tidak adanya kontrak kerja, asal-asalan, bahkan upah dikebiri oleh calo. Ini adalah bentuk penjajahan modern,” katanya.
Seminar ini menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk melihat kembali sejauh mana mereka telah berkontribusi dalam kehidupan sosial di lingkungan masing-masing.
Beberapa peserta mengaku terinspirasi untuk memulai kegiatan sosial sederhana di paroki mereka, seperti kunjungan ke panti jompo atau penggalangan dana untuk korban bencana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Temu OMK 2025 yang berlangsung selama tiga hari, dari 27 hingga 29 Juni.
Selain seminar, agenda lain meliputi misa bersama, lokakarya, dan kegiatan sosial yang mempererat solidaritas antar OMK lintas paroki. Suasana penuh semangat dan kebersamaan terasa kental sepanjang acara.
Temu OMK tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran orang muda dalam kehidupan Gereja dan masyarakat, khususnya dalam menjawab tantangan sosial di era modern.
Para peserta diajak untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku perubahan yang membawa nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat sinodalitas, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda Katolik yang tidak hanya aktif secara rohani, tetapi juga tangguh secara sosial.
“OMK adalah harapan Gereja. OMK menjadi mata keadilan bagi mereka pencari keadilan-korban TPPO,” pungkas Suster Kristina.(TESTI PRISCILLA/R)









