KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Di bawah rindangnya pepohonan beberapa pencari nafkah yang duduk di dalam becaknya sendiri terlihat seperti menikmati udara segar berbalut pemandangan lalu lintas di kawasan bundaran kecil Kuala Kapuas tepatnya di depan Kantor DPRD Kuala Kapuas.

Empat buah becak yang terparkir di sudut Jalan Tambun Bungai tersebut belum juga mendapatkan penumpangnya ketika hari sudah beranjak terik.

Dengan lembaran uang biru 50 ribu Rupiah, Borneonews sepakat dengan abang becak untuk menikmati pemandangan kota air,Kuala Kapuas pada Jum'at, 26 Juni 2025.

Hamsan (45) pengayuh becak tua tersebut dengan sigap mempersiapkan becaknya. "Selama tiga hari, baru abang ini penumpang saya," ucapnya sambil tersenyum.

Borneonews.coid segera meluncur menikmati potret kehidupan setiap sudut kota. Sambil mengabadikan spot-spot pasar, penyeberangan, jembatan bahkan jalan yang rusak. Setiap kayuhan abang becak seperti jadi 'vibes' tersendiri yang membawa pada memori masa silam.

"Sudah 25 tahun, mengayuh becak. Tapi sekarang sepi. Seminggu paling banyak lima penumpang," tutur Hamsan.

Pria yang menghidupi enam orang anak ini mengayuh becak sambil menceritakan profesinya tersebut. Dia merupakan satu diantara belasan abang becak yang masih menggeluti profesinya di kota air tersebur.

"Sekarang kita lihat saja lah, cari pekerjaan lain susah, ya semoga saja ada perhatian pemerintah," harapnya.

Tidak seperti kota lainnya di Kalimantan Tengah, transportasi becak masih tetap eksis di Kuala Kapuas. Hal tersebut jika diekspos dan diperhatikan oleh pemerintah daerah semestinya bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam hal wisata kota, terlebih jika dikemas sedemikian rupa.

Perjalanan bersama abang becak terus berlanjut hingga menyisiri kawasan padat penduduk dan pasar Kuala Kapuas. Dengan semangat mencari nafkah keluarga, perjalanan ini menyiratkan sesuatu yang belum padam. (SABRIANOOR/R)