BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, tim Pengabdian Kepada Masyarakat atau PKM Universitas Sumatera Utara atau USU menginisiasi pelatihan pembuatan pupuk organik di Desa Habeahan.
"Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemandirian petani dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia," kata Prof Rahmawaty, salah seorang dosen yang terlibat kepada Borneonews pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Pelatihan ini memanfaatkan tanaman Tithonia diversifolia—yang dikenal masyarakat sebagai “kepahitan”—sebagai bahan utama. Tanaman ini kaya akan unsur hara seperti nitrogen dan fosfor, menjadikannya sangat potensial untuk memperbaiki struktur tanah. Selain itu, kotoran kerbau yang melimpah di wilayah Habeahan juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran utama dalam pembuatan pupuk.
"Peserta pelatihan diperkenalkan pada teknik fermentasi sederhana yang ramah lingkungan dan mudah diterapkan di tingkat rumah tangga. Bahan-bahan yang digunakan antara lain daun tithonia segar sebanyak 10–15 kg, kotoran kerbau 20 kg, air cucian beras atau molase sebagai aktivator mikroba, serta EM4 sebagai starter mikroorganisme. Proses ini tidak memerlukan alat yang rumit—cukup ember besar, sekop, karung, dan plastik penutup," jelasnya.
Dengan pendekatan praktis ini, pelatihan diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang bagi kebutuhan pupuk masyarakat tani. Selain meningkatkan kesuburan lahan, pupuk organik ini juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah organik yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
--page
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi ekologis bagi warga. Masyarakat diajak untuk melihat potensi tanaman liar dan limbah ternak sebagai sumber daya yang bernilai, bukan sekadar gulma atau limbah yang harus dibuang.
Melalui program ini, Desa Habeahan diarahkan menjadi model desa mandiri yang mampu mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Tim PKM berharap inisiatif ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pertanian ramah lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan dari akar rumput.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Prof Abdul Rauf serta ada dua koordinator yang masing-masing membawahi anggotanya yakni Koordinator Dr T Irmansyah yang beranggotakan Nur Ulina Warnisyah Br Sebayang, Dr Bejo Slamet, serta Prof Rahmawaty. Sementara Koordinator Ir Yusak Maryunianta beranggotakan Rulianda Purnomo Wibowo, dan Helova Leonard Panjaitan. (TESTI PRISCILLA/y)









