BORNEONEWS, Palangka Raya - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat atau PKM Desa Binaan Universitas Sumatera Utara atau USU tahun 2025 menemukan pengetahuan lokal yang berharga dari warga Desa Habeahan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Masyarakat setempat telah lama memanfaatkan pohon Jabi-jabi (Ficus retusa L.) sebagai penguat bantaran sungai dan tebing. Sistem perakarannya yang kuat mampu mencengkeram tanah dan bebatuan, sehingga efektif mencegah erosi dan longsor.
"Lebih dari sekadar penahan tanah, pohon Jabi-jabi juga dikenal tahan terhadap api, menjadikannya sebagai pelindung alami dari risiko kebakaran lahan," kata Prof Rahmawaty,salah seorang dosen yang terlibat kepada Borneonews pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan, karakteristik ini menjadi sangat penting, terutama di kawasan rawan seperti daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba.
Selain fungsi ekologisnya, pohon ini juga memiliki nilai ekologis dan ekonomis lainnya. Buah Jabi-jabi disukai oleh berbagai jenis satwa liar, menjadikannya sumber pakan penting dalam ekosistem lokal.
--page
"Sementara itu, kayunya yang kuat dan mudah dibentuk sering dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel. Uniknya, pohon ini juga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi—tunas baru akan tumbuh dengan cepat setelah pohon ditebang," jelasnya.
Melihat potensi luar biasa ini, Tim PKM USU berinisiatif untuk memperbanyak pohon Jabi-jabi melalui metode stek. Teknik ini dinilai efektif karena pohon ini mudah berkembang biak secara vegetatif. Proses perbanyakan sedang berlangsung di Desa Habeahan, dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai bagian dari strategi pemberdayaan dan pelestarian.
"Bibit hasil perbanyakan ini nantinya akan ditanam kembali di kawasan-kawasan rawan longsor dan kebakaran di sekitar DTA Danau Toba, khususnya di wilayah Desa Habeahan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekosistem lokal sekaligus menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan di kawasan strategis tersebut," bebernya.
Melalui kolaborasi antara pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah, program ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dan akademisi dapat bersinergi dalam menciptakan solusi berbasis alam untuk tantangan lingkungan yang kompleks. Pohon Jabi-jabi pun kini tak hanya menjadi bagian dari lanskap desa, tetapi juga simbol ketahanan dan harapan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Prof Abdul Rauf serta ada dua koordinator yang masing-masing membawahi anggotanya yakni Koordinator Dr T Irmansyah yang beranggotakan Nur Ulina Warnisyah Br Sebayang, Dr Bejo Slamet, serta Prof Rahmawaty. Sementara Koordinator Ir Yusak Maryunianta beranggotakan Rulianda Purnomo Wibowo, dan Helova Leonard Panjaitan.(TESTI PRISCILLA/Y)









