PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Habeahan kembali digelar pada tahun kedua, dengan pendekatan menyeluruh mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Program ini merupakan kelanjutan dari upaya membentuk desa tangguh bencana sekaligus mandiri secara ekonomi, yang dirancang berbasis potensi lokal dan kebutuhan aktual masyarakat.

Dalam rilis kepada Borneonews pada Minggu, 29 Juni 2025 Prof Abdul Rauf MP menyampaikan urgensi konservasi lingkungan mengingat posisi geografis Desa Habeahan yang berada di daerah hulu dan sangat menentukan kondisi desa-desa hilir seperti Simangulampe yang mengalami banjir bandang pada 30 Desember 2024 lalu, khususnya di wilayah Sibuni-buni.

"Maka, kegiatan ini juga mencakup penanaman bibit aren, alpukat, dan permintaan khusus kepala desa untuk tanaman pucuk merah sebagai pelindung lahan," kata Prof Rauf selaku Ketua Tim.

Didukung PT PELINDO, pipanisasi air bersih juga dilakukan sebagai upaya mitigasi kekeringan, serta pembuatan Peta Rawan Bencana oleh Pak Bejo yang memetakan titik-titik gempa dan potensi banjir akibat aktivitas manusia seperti penyumbatan saluran air oleh sampah.

Sementara itu, Prof Rahmawaty sebagai salah seorang anggota menyebutkan telah terbentuk Forum Peduli Bencana Desa Habeahan serta Koperasi Merah Putih yang akan menjadi wadah kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam menjaga alam dan mengembangkan potensi ekonomi desa.

Dilanjutkan oleh Dr Bejo Slamet menegaskan pentingnya fokus pada pembuatan peta rawan bencana sebagai langkah awal mitigasi yang terukur dan berbasis data. Ia juga mendorong optimalisasi PEA Dolok seluas sekitar 30 hektar, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara produktif.

"Wilayah Danau Toba sering mengalami gempa berskala kecil yang dapat berdampak besar bila tidak diantisipasi sejak dini, khususnya di daerah-daerah rawan seperti Desa Habeahan," turut Dr Bejo.

Karena posisinya sebagai daerah hulu, Desa Habeahan berperan penting dalam mencegah bencana yang bisa berdampak pada desa hilir seperti Simangulampe, yang sebelumnya telah mengalami banjir bandang. Oleh karena itu, melalui kegiatan penanaman dan pengelolaan lahan secara produktif, diharapkan tidak hanya dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat, tetapi juga mampu meminimalisir risiko bencana yang disebabkan oleh degradasi lingkungan.

Nur Ulina Warnisyah Sebayang M.Agr salah satu akademisi ilmu tanah dari tim pengabdian juga turut mengenalkan teknologi pengolahan limbah organik dengan memanfaatkan tanaman Tithonia atau yang lebih dikenal dengan Pahitan/Kipahitan untuk produksi kompos yang akan dikombinasikan dengan kotoran kerbau yang banyak diternak oleh masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya sirkular ekonomi berbasis lokal.

Sebagai pemandu FGD sekaligus pelaksana abdimas desa binaan bidang sosial ekonomi, Ir. Yusak Maryunianta sebagai pakar agribisnis FP USU menyampaikan bahwa untuk tahun 2025, kegiatan abdimas bidang sosial dan ekonomi difokuskan pada penguatan ketahanan sosial ekonomi yang didukung penguatan kelembagaan desa.

Kegiatan penguatan ketahanan sosial dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas Forum Peduli Bencana, penguatan ketahanan ekonomi melalui peningkatan keterampilan kelompok perempuan dalam peningkatan nilai tambah produk pertanian berbasis potensi lokal serta pemasarannya dan peningkatan kapasitas SDM pengelola koperasi dan Bumdes. (TESTI PRISCILLA/j)