BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri kelapa sawit terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung perekonomian nasional. Selain berkontribusi besar dalam meningkatkan devisa negara, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sehingga menjadi tumpuan mata pencaharian bagi jutaan masyarakat Indonesia.
"Untuk menjaga keberlanjutan sektor ini, pemerintah mengimplementasikan Program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR. Program strategis nasional ini bertujuan meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat dengan cara memperbaharui tanaman tua tanpa mengurangi luas lahan. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan lahan tetap terjaga di tengah peningkatan produktivitas," kata Dr Siti Nurdjanah dalam rilis dari Badan Pengelola Badan Perkebunan atau BPBD pada Minggu, 29 Juni 2025.
Badan Pengelola Dana Perkebunan berperan penting dalam keberhasilan program ini dengan menyalurkan dana hibah sebesar Rp30 juta per hektar kepada petani peserta PSR. Mengacu pada data Kementerian Pertanian tahun 2022, potensi luasan kebun sawit yang dapat diremajakan mencapai 2,8 juta hektar, yang terbagi ke dalam kebun plasma, swadaya, dan PIR.
Kementerian Pertanian menyusun tiga pendekatan teknis dalam pelaksanaan PSR. Pertama, metode tumbang serempak atau pemotongan seluruh tanaman secara bersamaan. Jika pendekatan tersebut tidak memungkinkan, maka dapat dilakukan sesuai kondisi lokal. Ketiga, teknik yang digunakan tetap harus mengacu pada regulasi resmi budidaya sawit seperti diatur dalam Permentan Nomor 18 Tahun 2016.
"Menariknya, batang kelapa sawit tua hasil peremajaan tidak harus menjadi limbah. Melalui inovasi terbaru, batang-batang ini kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula merah cair. Pohon sawit tua, dengan usia tanam sekitar 30 tahun, menghasilkan nira yang dapat diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai ekonomis," tutur Dr Siti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu batang kelapa sawit tua dapat menghasilkan hingga 100 liter nira melalui pengepresan. Jika dikalikan dengan rata-rata 100 batang per hektar, maka potensi produksi nira mencapai 10.000 liter per hektar.
"Dengan 3,33 persen dari total 16,38 juta hektare lahan sawit Indonesia memasuki masa replanting, diperkirakan terdapat sekitar 5 miliar liter nira yang bisa dimanfaatkan secara nasional," katanya.
Menurut Dr Siti Nurdjanah dalam risetnya yang dipresentasikan di 8th Pekan Riset Sawit Indonesia, nira batang sawit tua mengandung gula total hingga 17,60 persen. Hal ini membuka peluang besar dalam pengembangan industri gula cair sebagai alternatif pemanis alami yang potensial di tengah kebutuhan nasional terhadap gula.
Pemanfaatan ini bukan hanya memperpanjang nilai guna tanaman sawit, tetapi juga membuka potensi tambahan penghasilan bagi petani saat masa tanam ulang berlangsung. Di tengah isu keberlanjutan dan inovasi industri, transformasi limbah batang sawit menjadi gula cair menjadi cerminan adaptasi dan kreativitas sektor kelapa sawit Indonesia. (TESTI PRISCILLA/j)









