PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr Siti Nurdjanah membuka peluang baru dalam pemanfaatan batang kelapa sawit tua yang selama ini dianggap sebagai limbah. Tingginya kadar gula dalam nira batang sawit tua menjadikan bahan ini berpotensi sebagai sumber gula cair alternatif yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gula nasional.

"Kondisi ketimpangan antara konsumsi dan produksi gula dalam negeri menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2022, konsumsi gula nasional mencapai 6,48 juta ton, sedangkan produksinya hanya 2,35 juta ton," kata Dr Siti dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Minggu, 29 Juni 2025.

Situasi ini menciptakan celah besar yang dapat diisi melalui inovasi pemanfaatan batang sawit tua, sekaligus memberikan peluang penghasilan tambahan bagi petani sawit saat masa replanting berlangsung.

Dalam proses produksinya, gula cair dari batang sawit diproses melalui dua metode. Metode pertama dilakukan dengan menebang pohon sawit tua dan menyadap niranya dari bagian umbut. Sedangkan metode kedua dilakukan dengan memotong batang sepanjang tiga meter, menyimpannya dalam ruang bersuhu dan kelembaban tertentu, lalu mencacah dan mengepresnya untuk mengekstrak nira.

"Nira yang dihasilkan disaring dua kali menggunakan kain saring berukuran 200 mesh, kemudian diuapkan hingga mencapai tingkat kekentalan kurang lebih 70°brix," katanya.

Proses ini membutuhkan waktu pemanasan sekitar 135 menit dan menghasilkan rendemen gula cair sebesar 24 persen. Gula cair yang dihasilkan memiliki pH 5,5 dan kandungan senyawa bioaktif yang tinggi, termasuk total gula reduksi sebesar 87,82 g/100 g dan total fenolik hingga 872,7 mg/100 g.

Selain itu, gula cair ini menunjukkan karakteristik fungsional yang mengesankan. Aktivitas antioksidan mencapai 80,394 persen (DPPH) dan 89,300 persen (ABTS), serta profil gula alami berupa glukosa 21,31 persen, fruktosa 12,57 persen, dan sukrosa 8,66 persen. Hasil analisis laboratorium juga menunjukkan bahwa produk ini bebas dari senyawa berbahaya seperti hidroksimetilfurfural (HMF) dan logam berat, serta memiliki tampilan cokelat bening dengan rasa manis yang disukai panelis.

"Nilai gizi yang terkandung dalam setiap 100 gram gula cair sawit ini juga tergolong tinggi, antara lain energi sebesar 232,86 kkal, protein 8,65 gram, dan karbohidrat total 49,52 gram tanpa mengandung natrium atau lemak signifikan," jelas Dr Siti.

Keunggulan ini menjadikannya sebagai bahan pangan yang tidak hanya bernilai ekonomi tapi juga sehat bagi konsumen.

Menariknya, gula cair ini termasuk jenis gula alami rendah kalori dengan indeks glikemik sebesar 49,6. Artinya, ia berpotensi menjadi alternatif aman bagi penderita obesitas dan diabetes, memperluas pangsa pasar di segmen konsumen dengan kebutuhan khusus terhadap gula yang lebih sehat.

"Dari hasil analisis kelayakan usaha yang dilakukan, seluruh indikator finansial, mulai dari NPV, IRR, Net B/C hingga PBP, menunjukkan bahwa usaha produksi gula cair dari batang sawit hasil replanting ini layak secara ekonomi. Inovasi ini tidak hanya memperpanjang nilai guna pohon sawit, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan melalui substitusi gula impor," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/j)