BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Mitra Mendawai Sejati atau MMS, unit bisnis dari PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, terus memperkuat komitmennya dalam pengendalian perubahan iklim dengan memetakan emisi karbon dari empat sektor utama.
Keempat sektor tersebut meliputi kehutanan dan tata guna lahan atau FOLU, energi, limbah, serta pertanian. Di sektor FOLU, PT MMS melindungi areal Nilai Konservasi Tinggi atau HCV dan kawasan konservasi orangutan.
Sementara di sektor energi dan limbah, perusahaan mengoperasikan fasilitas Methane Capture dan Bio-CNG Plant. Untuk sektor pertanian, mereka mengganti pupuk anorganik dengan pupuk organik dari limbah cair atau POME dan jangkos.
Chief Sustainability Officer PT SSMS Tbk, Henky Satrio W, menyampaikan bahwa saat ini perusahaan telah memasuki tahap validasi, khususnya untuk sektor limbah. Validasi ini mencakup pengolahan air limbah, transportasi, serta fasilitas penyaluran limbah dan biogas.
"Ini adalah tonggak penting dalam perjalanan keberlanjutan PT MMS dan komitmen kami untuk menjadi bagian dari solusi perubahan iklim," ujarnya.
Dalam proses validasi tersebut, validator melakukan penilaian terhadap Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi atau DRAM dengan kunjungan langsung ke fasilitas Methane Capture di PT MMS. Mereka juga melakukan kuantifikasi pengurangan emisi dari aksi mitigasi yang telah diterapkan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan seluruh proses dapat diverifikasi secara ilmiah dan sesuai standar nasional.
Rohmadi Ridlo, konsultan senior dari PT Cedar Karyatama Lestarindo atau CKL, menyatakan bahwa PT MMS merupakan salah satu perusahaan kelapa sawit pertama di Indonesia yang secara terbuka menyatakan komitmennya dalam menghitung emisi dan serapan karbon melalui Sistem Registri Nasional atau SRN.
"Tidak banyak perusahaan yang mau berinvestasi pada sistem pelaporan GRK secara menyeluruh. Keberanian PT MMS untuk memulai lebih dulu patut diapresiasi," katanya.
Menurut Rohmadi, PT MMS tidak hanya menyusun data untuk memenuhi kewajiban pelaporan, tetapi juga membangun sistem internal yang siap diverifikasi oleh lembaga resmi.
"Ini mencerminkan kesadaran mereka bahwa bisnis masa depan adalah bisnis yang hijau, transparan, dan bisa diverifikasi secara publik," tambahnya.
PT MMS menargetkan dokumen Sertifikat Penurunan Emisi atau SPE-GRK dapat diterbitkan pada 2025 dan siap berpartisipasi dalam skema perdagangan karbon nasional melalui IDXCarbon.
Melalui penghitungan karbon yang komprehensif ini, PT MMS menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar mematuhi regulasi, tetapi juga mengambil peran aktif dalam mendukung target net-zero emission Indonesia pada 2060.
"PT MMS percaya, langkah awal dengan menghitung dan memverifikasi emisi ini akan membawa dampak besar ke depannya, dan menjadi model keberlanjutan bagi industri kelapa sawit di Indonesia," tutup Henky. (TESTI PRISCILLA/H)









