PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Masyarakat Desa Habeahan dan Sitelu Bahal, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, menyuarakan harapan besar untuk mereklamasi sebagian rawa gambut di wilayah mereka menjadi embung atau sistem irigasi multifungsi.

Usulan ini disampaikan kepada para dosen Universitas Sumatera Utara yang melakukan Pengabdian kepada Masyarakat. Usulan ini mencakup pemanfaatan lahan gambut seluas lebih dari 50 hektare yang diyakini akan memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Prof Rahmawaty, pakar lingkungan dan tata kelola lahan dari Universitas Sumatera Utara, inisiatif warga ini sangat strategis.

"Embung yang dirancang dengan baik tidak hanya menjadi cadangan air untuk pertanian, tetapi juga mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) sawah. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan produksi pangan lokal," ujarnya pada Senin, 30 Juni 2025.

Selain mendukung pertanian, embung ini juga diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem mitigasi bencana. Rawa gambut yang berada di hulu Desa Simangulampe, wilayah yang terdampak banjir bandang pada Desember 2023, dapat menahan limpasan air hujan dan mengurangi risiko banjir serta genangan di desa-desa sekitarnya.

"Ini adalah bentuk adaptasi berbasis ekosistem yang sangat relevan dengan tantangan iklim saat ini," tambah Prof Rahmawaty.

Manfaat lain yang diharapkan dari proyek ini adalah peningkatan gizi masyarakat melalui budidaya ikan air tawar di embung. Dengan tersedianya air yang cukup dan sistem pengelolaan yang baik, warga dapat mengembangkan perikanan skala rumah tangga yang berkelanjutan.

“Ini bukan hanya soal ketahanan pangan, tapi juga soal peningkatan kualitas hidup,” jelasnya.

Tak hanya itu, warga juga melihat potensi wisata air sebagai daya tarik baru di kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Wisata alternatif berbasis air ini diharapkan dapat menarik pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

“Dengan pendekatan yang partisipatif dan berkelanjutan, embung ini bisa menjadi model pembangunan desa yang terpadu,” kata Prof. Rahmawaty.

Masyarakat berharap pemerintah dan para investor dapat merespons aspirasi ini dengan serius. Proyek ini dinilai sejalan dengan agenda nasional dalam memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

“Inilah saatnya kita mendengar suara desa dan menjadikannya bagian dari solusi nasional,” pungkas Prof Rahmawaty.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Prof Abdul Rauf serta ada dua koordinator yang masing-masing membawahi anggotanya yakni Koordinator Dr T Irmansyah yang beranggotakan Nur Ulina Warnisyah Br Sebayang, Dr Bejo Slamet, serta Prof Rahmawaty. Sementara Koordinator Ir Yusak Maryunianta beranggotakan Rulianda Purnomo Wibowo, dan Helova Leonard Panjaitan. (TESTI PRISCILLA/H)