BORNEONEWS, Nanga Bulik - Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra telah usai mengikuti Retret gelombang kedua. Ia mengaku kegiatan itu merupakan sarana untuk melakukan percepatan pembangunan sesuai amanat yang ditegaskan pemerintah pusat, tidak hanya fisik, tapi juga sumber daya manusia.
Bagi dirinya retreat juga jadi kesempatan emas untuk menyampaikan langsung permasalahan daerah, khususnya di Kabupaten Lamandau kepada stakeholder di pemerintahan pusat.
“Ada beberapa persoalan yang kami sampaikan di sela retret ini. Diantaranya soal masih banyaknya desa yang berada di dalam status kawasan hutan. Akibatnya banyak kepala keluarga di desa kesulitan untuk sertifikasi asetnya. Ini perlu langkah strategis supaya memudahkan masyarakat kami,” ungkap Rizky.
Selain itu, lanjut dia, Retret juga menjadi wadah untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antardaerah. Salah satunya ia sempat berkomunikasi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster, membahas penjajakan kerja sama di bidang pariwisata. Mengingat di Lamandau ada beberapa spot wisata serta budaya menarik khas Kalimantan.
Selain itu soal ketahanan pangan, apalagi melihat kondisi dinamika geopolitik global saat ini. Sejatinya setiap desa lokal di Lamandau mampu untuk swasembada beras. Namun ketika ada larangan membakar lahan, warga takut melanjutkan budaya pertanian padi gogo/bukit. Ini jadi masalah serius dan perlu solusi bersama.
Retret kepala daerah gelombang kedua ini diikuti oleh 86 kepala daerah yang terdiri dari dua gubernur, tiga wakil gubernur, 38 bupati, 37 wakil bupati, tiga wali kota dan tiga wakil wali kota. Sementara itu, sembilan kepala dan wakil kepala daerah tidak hadir, dengan yang memiliki alasan karena sakit sebanyak 6 orang dan izin kedukaan 1 orang.
Selama retret ini, para kepala daerah diberikan enam jenis materi yang terdiri atas ketahanan nasional, wawasan kebangsaan, Asta Cita, program kementerian dan lembaga, tugas dan fungsi kepala daerah, komunikasi politik serta team building. (din)









