BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebuah inisiatif hijau tengah tumbuh di jantung Kalimantan Tengah. Pastor Paroki Telok memelopori pembudidayaan pohon Schizolobium amazonicum, atau yang lebih dikenal sebagai Parika atau Sengon, di Desa Telok, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Langkah ini bukan hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
"Nilai ekonominya cukup besar, kita panen bijinya dan dijual dengan harga Rp2 juta per Kg, kurang lebih 1.100 sampai 1.200 jumlah bijiannya. Oleh pembeli kita dari Kalimantan Timur dan Jawa yang kemudian mereka jual kembali bijian, dengan harga kisaran Rp4.000-Rp5.000 per biji," kata Pastor Paroki Telok, Pastor Dominikus Kefi, SVD dalam wawancara singkat bersama Borneonews pada Selasa, 1 Juli 2025.
Sengon jenis ini, yang berasal dari hutan Amazon, kata Pastor Domi, dikenal sebagai pohon cepat tumbuh dengan nilai ekonomis tinggi, terutama dalam industri kayu ringan dan reboisasi.
"Kami ingin menghadirkan harapan baru bagi masyarakat melalui alam. Parika bukan hanya pohon, tapi simbol harapan dan keberlanjutan," ujarnya.
Desa Telok dipilih karena kondisi tanah dan iklimnya yang cocok untuk pertumbuhan Parika. Dengan dukungan umat dan masyarakat sekitar, lahan-lahan tidur mulai disulap menjadi kebun pembibitan dan penanaman pohon.
Program ini juga melibatkan pelatihan bagi warga desa, mulai dari teknik pembibitan, penanaman, hingga perawatan pohon. Pastor Paroki Telok bekerja sama dengan beberapa ahli kehutanan dan lembaga sosial untuk memastikan keberlanjutan proyek ini.
Inisiatif ini mencerminkan semangat ekopastoral Gereja Katolik, yang mengajak umat untuk merawat ciptaan sebagai bagian dari iman. Pastor Domi menegaskan bahwa pembudidayaan Parika adalah bentuk nyata dari ensiklik Laudato Si yang menyerukan pertobatan ekologis.
"Kami percaya bahwa iman harus menyentuh tanah, menyentuh kehidupan sehari-hari. Menanam pohon adalah doa yang hidup," tambahnya.
Dengan pertumbuhan Parika yang cepat—mencapai tinggi 15 meter dalam waktu 3–4 tahun—diharapkan dalam waktu dekat Desa Telok bisa menjadi pusat pembibitan dan edukasi lingkungan di wilayah Katingan.
Program ini juga membuka peluang kerja baru, terutama bagi kaum muda desa, serta menjadi model inspiratif bagi paroki-paroki lain di Kalimantan. (TESTI PRISCILLA/H)









