BORNEONEWS, Palangka Raya - Pelatihan Social Return on Investment atau SROI yang digelar PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (PT SSMS Tbk) 23–26 Juni 2025, di Kantor Pusat SSMS, Pangkalan Bun tak hanya memperkaya wawasan teknis, tetapi juga menggugah kesadaran peserta akan pentingnya mendengarkan langsung suara masyarakat.
Hal ini dirasakan oleh Restu Putra Tegar, staf CSR PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), yang menyebut praktik lapangan sebagai pengalaman yang membuka mata.
"Pelatihan ini memberi kami cara baru untuk mengevaluasi program. Selama ini kami fokus pada jumlah kegiatan, tapi sekarang kami belajar menilai dampak yang dirasakan oleh masyarakat. Itu jauh lebih penting," ujar Restu usai mengikuti sesi praktik di desa binaan, seperti dalam rilisnya pada Selasa, 1 Juli 2025.
Senada dengan itu, Alsa Lowtogana, Assistant Manager CSR PT Menteng Kencana Mas (MKM), menekankan pentingnya kepekaan dalam merancang program.
“Melihat langsung bagaimana masyarakat menilai program yang kita jalankan membuat kami lebih hati-hati. Tidak semua bantuan berdampak positif jika tidak sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Sesi praktik lapangan menjadi titik balik bagi banyak peserta. Mereka tidak hanya belajar mengumpulkan data, tetapi juga memahami bahwa keberhasilan program sosial tidak bisa diukur dari angka semata, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Staf Sustainability dari Kantor Pusat, Altria Mardiana P menambahkan bahwa SROI memberi kerangka kerja yang lebih sistematis.
"Bukan hanya soal jumlah penerima manfaat, tapi perubahan apa yang benar-benar terjadi di masyarakat. Itu yang menjadi fokus evaluasi," katanya.
SSMS mendorong seluruh peserta untuk menerapkan hasil pelatihan di unit kerja masing-masing. Perusahaan juga berkomitmen memberikan pendampingan teknis lanjutan agar proses perhitungan SROI dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan, sebagai bagian dari sistem kerja yang transparan dan berdampak. (TESTI PRISCILLA/H)









