SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Akhyannoor mendorong pemerintah daerah untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan di wilayah-wilayah pertanian dan akses menuju sekolah, khususnya di daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi beberapa desa pelosok.

Dalam rapat pembahasan dan hasil reses di lapangan, Akhyannoor menegaskan bahwa kondisi jalan yang rusak parah tidak hanya berdampak pada kelancaran distribusi hasil panen, tetapi juga menghambat akses pendidikan bagi anak-anak di pedalaman.

“Kalau jalannya tidak kita benahi, bagaimana petani mau mudah dan nyaman membawa hasil panennya? Rata-rata warga di sana hanya mengandalkan armada klotok. Kalau musim hujan, jalan rusak dan hasil pertanian bisa gagal terangkut,” kata Akhyannoor, Rabu, 2 Juli 2025.

Ia mencontohkan kondisi di Desa Lampuyang, yang saat ini mulai mendapatkan dukungan pengairan melalui program bantuan provinsi. Menurutnya, upaya tersebut berpotensi meningkatkan hasil pertanian jika dibarengi dengan perbaikan akses jalan.

“Kelompok tani di Lampuyang itu besar-besar dan sangat aktif. Tapi kalau jalannya tidak mendukung, hasil panennya sulit dinikmati masyarakat,” jelasnya.

Akhyannoor juga menyoroti kerusakan jalan padat karya menuju Pasar Lampuyang, yang telah lama menjadi keluhan masyarakat. Ia berharap pemerintah daerah bisa mengakomodasi perbaikan jalan ini melalui perubahan APBD tahun 2025.

Selain masalah pertanian, Akhyannoor turut menyoroti dampak infrastruktur buruk terhadap akses pendidikan. Di wilayah Samuda Kecil, anak-anak sekolah dasar terpaksa berjalan melewati genangan air saat banjir, bahkan tanpa alas kaki.

“Saat reses, kami minta diajukan proposal pembangunan. Kasihan anak-anak kalau sampai tidak sekolah gara-gara jalan rusak dan banjir,” tuturnya.

Sebagai solusi jangka pendek, Akhyannoor mengusulkan pembangunan jembatan kayu ulin di titik-titik rawan banjir agar anak-anak tetap bisa ke sekolah. Meski idealnya menggunakan box culvert atau beton, ia memahami keterbatasan anggaran saat ini.

“Yang penting anak-anak tetap sekolah. Kalau belum bisa bangun beton, pakai ulin dulu. Jangan sampai mereka putus sekolah karena jalan tidak bisa dilalui,” ujarnya.

Ia juga menyinggung minimnya infrastruktur sekolah dasar di daerah pelosok dan meminta agar pemerintah segera menindaklanjuti pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan.

Dirinya mengajak seluruh orang tua untuk mendorong anak-anak menyelesaikan pendidikan minimal hingga tingkat SMA. Ia menyoroti masih adanya anggapan bahwa pendidikan tidak terlalu penting karena tekanan ekonomi.

“Kita menuju Indonesia Emas, jadi SDM kita harus disiapkan. Jangan sampai anak-anak kita hanya lulusan SD atau SMP. Mereka harus sekolah supaya bisa bersaing di masa depan,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)