SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Rencana pengembangan Bandara H Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menemui berbagai tantangan, meskipun lahan untuk pemindahan gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) telah tuntas. 

“Meskipun nanti kami sudah menyelesaikan pengadaan lahan pemindahan gedung PKP-PK, ternyata belum tentu menyelesaikan masalah penerbangan kita. Kami koordinasi dengan pihak bandara dan Kementerian Perhubungan bahwa ada beberapa masalah,” kata Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Kotim, Rafiq Riswandi, Kamis, 3 Juli 2025.

Hal tersebut sempat ia utarakan dalam rapat bersama Komisi IV DPRD Kotim. Ia meminta legislatif membantu terus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Dinas SDABMBKPRKP mengenai kelanjutan pengembangan Bandara H Asan Sampit. 

Lanjutnya, pihaknya berkoordinasi dengan pihak bandara dan Kementerian Perhubungan bahwa Nam Air menjadi pesawat terakhir yang bisa mendarat di Bandara H Asan Sampit karena tidak diproduksi lagi. Rata-rata saat ini maskapai menggunakan pesawat Airbus, namun bandara belum memadai didarati pesawat berbadan besar. 

"Permasalahan kita bukan hanya gedung PKP-PK tetapi juga jalan bengkirai (yang harus ditutup)," imbuhnya. 

Tantangan selanjutnya adalah obstacle di sekitar Bandara rata-rata terdapat kebun sawit yang tinggi. Kondisi itu mengganggu keamanan penerbangan yang menyebabkan jarak pandang pilot terbatas.

"Kemudian runway kita kurang lebar. Mereka mengilustrasikan saat Airbus turun itu pesawat besar, runawaynya mungkin saja cukup. Tetapi pada saat memutar atap-atap rumah warga di sekitar situ bisa terbang," ujarnya. 

Kekuatan pesawat berbadan besar tersebut sangat besar sehingga membutuhkan lapangan yang lebih lebar.

"Jadi ketika kita bebaskan gedung PKP-PK belum tentu pesawat besar bisa mendarat," tandasnya. 

Ketua Komisi IV DPRD Kotim, Mariani, turut memberikan catatan penting terkait pengembangan bandara. Ia menyoroti bahwa pesawat Nam Air menjadi yang terakhir beroperasi secara reguler karena keterbatasan fasilitas di Bandara H Asan.

“Kita perlu menyiapkan secara serius landasan pacu dan infrastruktur lainnya. Jika tidak, mustahil bisa menerima penerbangan reguler dari maskapai besar yang memakai Airbus,” kata Mariani. (DEWI PATMALASARI/H)