PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 127 kejadian bencana di seluruh wilayah Kalteng sejak 1 Januari hingga 30 Juni 2025. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tercatat sebagai bencana tertinggi dengan 84 kejadian.

Selain Karhutla, BPBD juga mencatat 33 kejadian banjir, empat tanah longsor, empat cuaca ekstrem, dan dua gempa bumi. Dampak bencana tersebut meliputi lebih dari 57 ribu rumah terdampak serta kerusakan infrastruktur dan lahan.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.

"Kita telah memasuki awal musim kemarau. Seluruh Pos Lapangan saya minta untuk meningkatkan patroli, sosialisasi, dan pembasahan secara rutin," ujar Ahmad Toyib di Palangka Raya, baru baru ini.

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga akhir Juni 2025, luas lahan yang terbakar mencapai 146,21 hektare dengan 354 titik hotspot yang terpantau. Kabupaten Sukamara, Pulang Pisau, dan Seruyan menjadi wilayah dengan luasan terbakar tertinggi.

Menurut Ahmad Toyib, luas Karhutla memang menurun dibanding dua tahun terakhir, namun risiko masih tinggi. Oleh karena itu, koordinasi dan aksi cepat di lapangan terus diperkuat.

--page

BPBD Kalteng juga menginstruksikan seluruh Poslap menggunakan aplikasi Zello untuk mempercepat pelaporan dan komunikasi lintas tim. Namun hingga 1 Juli 2025, jumlah peserta rallcall melalui aplikasi ini masih belum mencapai separuh dari total regu.

“Dengan disiplin, kolaborasi, dan kerja nyata dari semua pihak, kita wujudkan Kalteng bebas kabut asap 2025,” tegas Ahmad Toyib. (HERMAWAN DP/Y)