BORNEONEWS, Pulang Pisau — Nopiar Rahman, pegiat literasi asal Kabupaten Pulang Pisau yang dikenal luas dengan panggilan Kak Nono, resmi terpilih sebagai salah satu Relawan Literasi Masyarakat (Relima) tahun 2025 yang diumumkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Ia menjadi satu dari dua perwakilan Kalimantan Tengah yang berhasil lolos seleksi nasional bersama seorang relawan lainnya dari Kotawaringin Barat.
Program Relima merupakan inisiatif baru Perpusnas RI yang dimulai pada paruh kedua tahun 2025, yakni Juli hingga Desember. Para relawan terpilih akan mendampingi berbagai jenis perpustakaan masyarakat, termasuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Perpustakaan Desa/Kelurahan, serta Perpustakaan Khusus seperti yang ada di rumah ibadah.
“Kami juga bertugas mengampanyekan budaya membaca dan menulis, serta melakukan advokasi literasi. Kami akan menjalin koordinasi dengan para pemangku kepentingan daerah,” ujar Nopiar Rahman sebagaimana rilis diterima bornoenews, Minggu, 6 Juli 2025.
Untuk sampai ke titik ini, Nopiar melewati serangkaian proses seleksi ketat, mulai dari administrasi, portofolio, penulisan esai, hingga wawancara. Ia menganggap keterpilihannya sebagai bentuk apresiasi atas konsistensinya membina literasi di berbagai lini masyarakat.
Kiprah Panjang di Dunia Literasi
Lahir dan dibesarkan di Banjarbaru, Nopiar merantau ke Kalimantan Tengah setelah menyelesaikan pendidikan di STIBA. Ia pernah mengajar di sekolah milik perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur, kemudian melanjutkan studi di Universitas Palangka Raya lewat beasiswa CSR. Sebagai pustakawan sekolah, ia memadukan profesi dan kecintaan terhadap literasi.
Pada akhir 2019, Nopiar mendirikan TBM Grup Literasi Gawi Hatantiring Seruyan. Meski sempat terkendala pandemi COVID-19 pada Maret 2020, semangatnya tak surut. TBM yang ia kelola bahkan menerima hibah 1.000 judul buku dari Perpusnas RI pada 2024. Ia juga aktif memanfaatkan teknologi, menggelar pertemuan virtual melalui Zoom bersama komunitas literasi dari berbagai daerah.
Nopiar mengaku mendapat dukungan penuh dari istri, anak, dan rekan kerja, yang menjadi sumber semangat utamanya. Ia dikenal sebagai pembaca lintas genre—cerpen, puisi, novel, hingga artikel populer. Hingga kini, ia telah menulis 15 antologi dan satu buku solo. Buku terbarunya, Pustakawan Bercerita, dijadwalkan terbit tahun ini bersama satu antologi kolaborasi GTK SMP Tunas Agro.
Beberapa penghargaan yang pernah ia raih antara lain:
-
Pemakalah terbaik nasional, Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia, Yogyakarta (2021)
-
Penulis Jurnal Inovasi Perpustakaan Buletin UII Yogyakarta (2023)
-
Pustakawan Berprestasi Provinsi Kalimantan Tengah (2018)
-
Tenaga Kependidikan Berprestasi Kabupaten (2017)
Inovasi terbarunya, Perpustakaan Goes to Halte, sukses mengantarkan Perpustakaan Cendekia SMP Tunas Agro meraih Juara 1 Perpustakaan SMP/MTs Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.
Komitmen Nopiar juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai organisasi literasi dan profesi, seperti:
-
PD. ATPUSI Provinsi dan Kabupaten Kalimantan Tengah
-
Sekretaris PW Forum TBM Kalteng
-
Sekretaris PD. FPSMI Kabupaten
-
Wakil Ketua PD. IPI Kabupaten
-
Ketua Forum Perpustakaan Sekolah Kabupaten
-
Koordinator Program Virtual Study Tour Perpustakaan (kerja sama dengan Dispursip Kalteng)
-
Koordinator Program “Perpustalk” dan “Tunas Agro Menulis”
Menurut Nopiar, membangun budaya literasi di Kalimantan Tengah ibarat menyusuri jalan berbatu yang menantang. Namun ia melihat tren positif dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mendukung gerakan membaca. Ia berharap akses bahan bacaan dan fasilitas pendukung semakin merata di seluruh wilayah.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tapi tentang membentuk peradaban,” pungkasnya. (RETHA/j)









