PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Praktisi energi dari Universitas Antakusuma, Ade Pajar P. M.Eng, menyoroti serius ketidakstabilan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat.

Menurutnya, fenomena kesenjangan pasokan listrik ini merupakan persoalan yang tak boleh dianggap remeh, terlebih menyangkut kualitas layanan bagi pelanggan.

Ade mengungkapkan berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, ditemukan adanya tegangan listrik yang hanya berada di kisaran rata-rata 168 volt. Angka ini jauh di bawah standar ideal 220 volt untuk kebutuhan rumah tangga dan kegiatan produktif lainnya.

"Ini mencerminkan ketidakstabilan pasokan listrik, padahal dalam dokumen RUPTL PLN disebutkan cadangan daya listrik justru surplus. Artinya, ada ketidaksesuaian antara perencanaan di atas kertas dengan realita di lapangan yang saya sebut sudah loss control," tegas Beni, Senin, 7 Juli 2025.

Pelanggan harus menjadi prioritas utama yang dilayani dan dilindungi. Menurutnya, sangat tidak tepat jika di tengah klaim kelebihan daya listrik, masyarakat masih merasakan pelayanan yang tidak memenuhi standar teknis.

"Saya mendorong agar PLN segera melakukan peninjauan teknis menyeluruh untuk mengecek kondisi jaringan distribusi baik jaringan SUTR (Saluran Udara Tegangan Rendah), gardu distribusi, hingga trafo yang barangkali sudah berumur dan perlu diremajakan," jelasnya.

Ade menekankan bahwa persoalan ini bukan semata-mata bersifat teknis, tetapi juga menyangkut keadilan dalam akses energi.

Ia berharap agar distribusi listrik benar-benar merata dan tidak ada wilayah yang mengalami drop tegangan secara berkepanjangan.

"Kalau memang ada kelebihan daya, maka PLN perlu memastikan distribusinya tepat sasaran, tidak ada titik yang drop, dan kualitas layanan tetap merata," ujarnya.

Ia menyarankan agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh di lapangan oleh tim independen atau melibatkan pihak akademisi dan komunitas teknis lokal agar ditemukan solusi objektif atas kendala yang terjadi.

"Pemeriksaan menyeluruh di lapangan adalah langkah awal untuk menjawab apa sebenarnya kendala riil yang dihadapi. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan akibat pasokan listrik yang di bawah standar," pungkasnya. (DANANG/r)