PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pertapaan Rawaseneng, yang dikenal sebagai tempat hening dan doa para biarawan Trappist, menjadi ruang kontemplatif yang membentuk jiwa misioner 100 remaja Katolik dalam kegiatan Pertemuan Nasional (Pernas) II Teen School of Mission (TSoM) angkatan ke-5. Selama empat hari, 5–8 Juli 2025, suasana sunyi dan damai pertapaan menjadi latar yang mendalam bagi para peserta untuk mengalami spiritualitas yang lebih personal dan mendalam.

Bukan sekadar tempat, Rawaseneng menjadi simbol penting dalam proses pembentukan karakter misioner. Para peserta diajak untuk mengalami ritme hidup doa dan keheningan yang dijalani para biarawan. Hal ini menjadi pengalaman baru bagi banyak remaja yang selama ini hidup dalam hiruk-pikuk dunia digital dan aktivitas padat.

"Kami belajar untuk diam, mendengarkan, dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keheningan," ujar salah satu peserta dari Keuskupan Palangka Raya.

Rm Alfonsus Widhiwiryawan, SX, dari Komisi KKI-KKM KWI dan Direktorat Nasional KKI, dalam sambutannya menekankan bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang perjumpaan dengan Tuhan.

“Doa, hening, dan kerja adalah kekuatan mendasar dalam bermisi. Di sinilah para remaja belajar bahwa misi tidak selalu dimulai dari keramaian, tetapi dari kedalaman relasi dengan Tuhan,” ungkapnya.

--page

Kegiatan ini tidak hanya membentuk spiritualitas pribadi, tetapi juga mempererat persaudaraan lintas keuskupan. Remaja dari 16 keuskupan saling berbagi pengalaman iman dan tantangan hidup sebagai orang muda Katolik di daerah masing-masing. Perjumpaan ini menjadi ruang belajar bersama tentang keberagaman Gereja dan semangat sinodalitas.

Selain sesi doa dan refleksi, para peserta juga dilibatkan dalam kerja bersama, seperti membersihkan lingkungan pertapaan dan membantu tugas harian komunitas. Aktivitas ini menjadi bentuk konkret dari spiritualitas kerja yang diajarkan dalam TSoM.

Dengan kegiatan ini, Rawaseneng diharapkan tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi menjadi pengalaman batin yang membekas. Para remaja TSoM diharapkan akan pulang dengan semangat baru: menjadi pribadi yang hening dalam doa, tekun dalam kerja, dan siap bermisi di tengah dunia yang haus akan harapan dan kasih. (TESTI PRISCILLA/Y)