BORNEONEWS, Palangka Raya — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Yuliansah Andrias menegaskan bahwa emas merupakan salah satu komponen penting dalam struktur cadangan devisa nasional.
Peran strategis logam mulia ini tak hanya sebagai aset lindung nilai (safe haven), tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
“Emas menjadi bagian dari portofolio cadangan devisa BI karena sifatnya yang tahan terhadap gejolak pasar. Di tengah ketidakpastian global, emas tetap menunjukkan ketahanan nilai, sehingga membantu memperkuat ketahanan eksternal Indonesia,” ujar Yuliansah, Senin, 7 Juli 2025.
Dia melanjutkan, cadangan devisa, termasuk emas, berfungsi sebagai bantalan (buffer) ketika terjadi tekanan eksternal seperti gejolak harga komoditas, pelemahan nilai tukar, atau krisis global.
Dengan memiliki cadangan emas, BI memiliki fleksibilitas dalam menjaga stabilitas moneter dan likuiditas pasar.
--page
Yuliansah menambahkan seiring meningkatnya tekanan eksternal dan ketidakpastian geopolitik dunia, banyak bank sentral di dunia termasuk BI memperkuat cadangan emasnya.
BI memanfaatkan cadangan ini untuk memperkuat kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional dan menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap dalam batas wajar.
“Keberadaan emas dalam cadangan devisa memperkuat daya tahan BI dalam melakukan intervensi di pasar valas serta memberikan sinyal kepercayaan kepada investor global,” tambahnya
Hingga pertengahan 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang cukup aman, didukung oleh surplus neraca perdagangan dan pengelolaan portofolio yang hati-hati, termasuk penempatan emas sebagai aset strategis.
"Outlook inflasi bulan Juni 2025 di Kalteng faktor pendorongnya kenaikan harga komoditas emas global," pungkasnya. (MARINI/Y)









