BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN Perwakilan Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya untuk terus menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng, Sunarto, dalam kegiatan Penilaian Kinerja Kabupaten/Kota Aksi Konvergensi Penurunan Stunting 2025 yang digelar baru-baru ini.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI tahun 2024, prevalensi stunting di Kalimantan Tengah tercatat sebesar 22,1 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Sunarto menekankan bahwa capaian ini masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini berada di angka 19,8 persen.
“Kami mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penurunan angka stunting ini. Namun, perjuangan belum selesai. Target kita pada tahun 2025 adalah menurunkan prevalensi stunting menjadi 20,6 persen,” ujar Sunarto.
Sunarto menambahkan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga peran aktif masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendekatan konvergensi, di mana berbagai program dan intervensi dilakukan secara terintegrasi dan tepat sasaran.
Dalam kegiatan penilaian kinerja tersebut, BKKBN juga mengevaluasi sejauh mana kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah telah mengimplementasikan aksi konvergensi penurunan stunting. Penilaian ini mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi program di tingkat daerah.
--page
“Stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga menyangkut pola asuh, sanitasi, dan akses layanan kesehatan. Oleh karena itu, kami berharap seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat komitmen dan kolaborasi untuk mewujudkan generasi Kalimantan Tengah yang sehat dan berkualitas,” tutur Sunarto. (TESTI PRISCILLA/Y)









