SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya akibat korsleting listrik, menyusul terjadinya dua kebakaran dalam waktu 24 jam di wilayah Kotim, Selasa, 8 Juli 2025.

Plt Kepala Disdamkarmat Kotim Ati Maraahini menyampaikan, kebakaran pertama terjadi di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar pukul 13.56 WIB. Rumah milik Salbiah, seorang janda lansia yang tinggal sendirian, hangus terbakar diduga akibat korsleting listrik.

“Bangunan rumah tersebut berbahan kayu tua, api cepat membesar. Saat kejadian, korban sedang berada di toilet. Warga sekitar dan karyawan PT Wilmar ikut membantu pemadaman dengan alat seadanya sebelum petugas tiba,” ujar Ati, Rabu, 9 Juli 2025.

Kondisi rumah berbahan mudah terbakar menyebabkan si jago merah sulit dikendalikan. Tim Damkar yang berada sekitar 16 kilometer dari lokasi tiba saat api masih menyala sebagian dan segera melakukan proses pendinginan dan pengecekan akhir.

Kebakaran kedua terjadi di malam harinya, sekitar pukul 19.45 WIB, di wilayah Bagandung, Desa Handil Sohor, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Lokasi berada di pinggir sungai dengan akses terbatas karena banyak jembatan kecil dan rapuh, memaksa petugas Damkar memutar lewat pasar.

“Untungnya relawan Samuda yang sudah mendapat pelatihan dari kami bersama aparat Kepolisian dan TNI langsung bertindak. Satu rumah, satu mobil, dan satu motor terbakar. Tapi syukur tidak ada korban jiwa,” tambah Ati.

Kedua kejadian tersebut memperlihatkan bahwa korsleting listrik menjadi penyebab utama kebakaran pemukiman, terutama di bangunan tua dan padat penduduk.

Ati Maraahini mengingatkan warga untuk memperhatikan kondisi instalasi listrik di rumah masing-masing. Ia menyebut sebagian besar jaringan listrik di Kotim sudah berusia 5 hingga 10 tahun, dan rawan mengalami gangguan teknis.

“Kami mohon bantuan dari PLN bersama Damkar, BPBD, pemerintah kecamatan, dan desa untuk melakukan sosialisasi dan pengecekan instalasi listrik rumah tangga. Ini penting agar warga tahu cara mencegah korsleting,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)