BORNEONEWS, Palangka Raya - Indonesia terus menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global dengan mencanangkan target net zero emission atau NZE maksimal pada 2060.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan lima prinsip utama untuk mencapai target tersebut, meliputi pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT, pengurangan energi fosil, percepatan kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik di sektor rumah tangga dan industri, serta pengembangan teknologi carbon capture and storage atau CCS.
Salah satu langkah konkret dalam mendukung EBT adalah melalui program biodiesel berbasis kelapa sawit, yang telah dimulai sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2006.
“Kami melihat potensi besar kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati. Sejak saat itu, produksi biodiesel nasional terus tumbuh, menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar biodiesel sawit dunia,” ujar Eddy pada Kamis, 10 Juli 2025.
Transformasi biodiesel nasional dilakukan secara bertahap melalui penerapan B2,5 pada 2006, B20 pada 2016, hingga implementasi B30 secara nasional mulai 2020. Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional di tengah fluktuasi pasar minyak dunia.
Pada awal 2023, penggunaan biodiesel B35 mulai direalisasikan secara mandatori di berbagai sektor, termasuk angkutan darat, angkutan air, dan kapal TNI Angkatan Laut (AL). Meski demikian, tantangan signifikan muncul di sektor maritim.
“Karakter mesin dan sistem penyimpanan bahan bakar di kapal berbeda dengan transportasi darat. Stabilitas biodiesel sangat dipengaruhi oleh lingkungan ekstrim dan durasi penyimpanan,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, berbagai masalah teknis seperti filter blocking, pembentukan deposit pada injektor, dan peningkatan biaya perawatan menjadi perhatian utama. Untuk menjawab tantangan ini, BPDP mendukung riset yang berfokus pada pengembangan sistem filtrasi yang lebih efisien dan teknologi pengondisian bahan bakar agar kualitas biodiesel tetap terjaga dalam kondisi ekstrem.
“Kami percaya bahwa dengan inovasi teknologi dan kolaborasi antar-pemangku kepentingan, program biodiesel bisa diterapkan lebih luas dan efisien, termasuk di sektor maritim,” tutur Eddy.
Dengan pendekatan holistik dan dukungan riset, pemerintah optimistis bahwa pengembangan biodiesel akan menjadi pilar utama dalam transisi energi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)









