PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya memperluas penggunaan biodiesel nasional hingga ke sektor maritim, Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP menyoroti tantangan teknis yang dihadapi oleh Kapal Republik Indonesia atau KRI. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman, menyampaikan bahwa mesin pada KRI memiliki spesifikasi lebih ketat dibandingkan transportasi darat.

“Stabilitas penyimpanan bahan bakar di kapal sangat dinamis. Akibatnya, kerap terjadi filter blocking, deposit pada injektor, serta peningkatan frekuensi perawatan,” ujar Eddy dalam rilisnya pada Kamis, 10 Juli 2025.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena gangguan mesin dapat menghambat tugas KRI di laut dan meningkatkan biaya operasional. Selain spesifikasi mesin, sistem filtrasi dan metode penyimpanan yang tidak tepat turut memperburuk kondisi bahan bakar.

“Kapal dengan penampungan besar dan lama sangat rentan terhadap degradasi biodiesel,” tambah Eddy.

Salah satu risiko terbesar adalah biodiesel menyerap air dari lingkungan laut. Hal ini menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur, yang menghasilkan kontaminan sludge dikenal sebagai soft particle. Kontaminan ini bisa mempercepat kerusakan sistem bahan bakar dan meningkatkan potensi kerusakan mesin.

BPDP telah menginisiasi kolaborasi lintas sektor untuk menanggulangi isu ini. Tim peneliti yang terdiri dari akademisi dan praktisi energi melakukan kajian mendalam guna merumuskan solusi teknis yang relevan dengan kondisi ekstrem sektor maritim. Penelitian ini mencakup pemetaan kondisi bahan bakar dan filter eksisting pada armada laut Indonesia.

“Kami mendorong lahirnya desain sistem filtrasi baru yang bisa diadaptasi oleh kapal perang dan angkutan air lainnya. Selain itu, penting untuk menetapkan SOP penyimpanan dan penggunaan biodiesel yang sesuai dengan lingkungan laut,“ tuturnya.

BPDP juga memfasilitasi transfer teknologi agar inovasi dapat segera diimplementasikan.

Dengan pendekatan kolaboratif dan dukungan riset, BPDP berharap sektor maritim Indonesia dapat beradaptasi secara teknis terhadap penggunaan biodiesel konsentrasi tinggi. Inovasi ini diharapkan mendukung misi pemerintah mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060 dengan tetap menjaga efektivitas operasional armada laut nasional. (TESTI PRISCILLA/j)