BORNEONEWS, Sampit – Museum Kayu Sampit, ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali mencatatkan kisah manis dari dunia pariwisata. Kali ini, rombongan wisatawan mancanegara asal Amerika Serikat dan Australia menyempatkan diri singgah dan menikmati keunikan museum tersebut dalam rangkaian perjalanan mereka menjelajahi Kalimantan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim Bima Ekawardhana mengatakan, kunjungan turis asing tersebut bukan sekadar singgah biasa. Rute panjang mereka dimulai dari Banjarmasin, menelusuri keindahan Loksado dan Kapuas, lalu Palangka Raya, sebelum akhirnya tiba di Kota Sampit. Dari sini, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Nasional Tanjung Puting melalui Pangkalan Bun.
Meskipun hanya berlangsung singkat, kunjungan ke Museum Kayu Sampit memberikan kesan mendalam bagi para turis. Di dalam museum, mereka tak hanya melihat deretan benda bersejarah, tetapi juga mengagumi koleksi aneka mesin pengolahan kayu masa lampau.
“Kesan mereka sangat positif. Mereka menyukai suasana museum dan terpukau dengan benda-benda di dalamnya, terutama mesin kayu serta hasil kerajinan lokal. Mereka juga tertarik pada benda-benda yang merepresentasikan budaya masa lalu kita,” kata Bima, Jumat, 11 Juli 2025.
Museum Kayu Sampit memang menyimpan kekayaan budaya yang unik. Koleksi-koleksi di dalamnya merekam kejayaan masa lalu daerah ini, terutama di sektor kehutanan dan kerajinan kayu. Mulai dari alat tradisional, dokumentasi sejarah, hingga produk rumah tangga dari kayu khas Kalimantan—semuanya tersimpan apik dan menjadi jendela masa lalu.
Kunjungan dari turis asing tersebut menjadi angin segar bagi sektor wisata budaya di Kotim. Bima menilai, dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang tepat, potensi wisata seperti Museum Kayu bisa menjadi magnet tersendiri, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Ini membuktikan bahwa wisata berbasis budaya tetap menarik bagi wisatawan asing. Tinggal bagaimana kita merawat, mengelola, dan terus mempromosikannya,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









