BORNEONEWS, Palangka Raya — Dalam momentum peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Turki, politisi Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, menegaskan bahwa di atas segala bentuk kerja sama antarnegara, ada satu nilai yang jauh lebih luhur dan menyatukan: nilai-nilai kemanusiaan.
Pernyataan itu disampaikan Faridawaty saat menghadiri kegiatan kemanusiaan bertajuk “A Voice Beyond Limits” yang digelar di pusat rehabilitasi anak disabilitas, Kota Küçükçekmece, Istanbul.
Ia mengatakan bahwa diplomasi sejatinya bukan hanya soal kepentingan negara, tetapi juga harus menyentuh sisi kemanusiaan, merangkul yang terpinggirkan, dan memberi ruang bagi mereka yang suaranya kerap tak terdengar.
“Kita bisa berbeda negara, bahasa, budaya, bahkan keyakinan. Tapi kemanusiaan adalah bahasa universal yang mampu menyatukan kita semua,” ujarnya, Sabtu, 12 Juli 2025.
Faridawaty menambahkan bahwa diplomasi yang menyentuh hati justru mampu membangun fondasi yang lebih kuat dalam hubungan internasional, karena dilandasi kasih sayang, empati, dan kepedulian lintas batas.
Dalam kegiatan tersebut, ia menyerahkan bantuan berupa donasi tunai, dukungan bagi tenaga pengajar, serta mainan edukatif untuk anak-anak disabilitas. Aksi nyata ini mendapat apresiasi luas dari Pemerintah Kota Küçükçekmece dan para aktivis disabilitas Turki yang hadir.
Selain menjadi Ketua DPW Partai NasDem Kalimantan Tengah dan Anggota DPRD Provinsi Kalteng, Faridawaty juga dikenal aktif memperjuangkan isu perempuan, anak, dan kelompok rentan baik di tingkat lokal maupun internasional.
“Anak-anak ini bukan sekadar statistik atau kelompok minoritas. Mereka adalah bagian dari kita, dan mereka punya hak yang sama untuk tumbuh, bermimpi, dan berkontribusi,” tuturnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya menciptakan kesan diplomatik yang hangat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kerja sama bilateral Indonesia–Turki.
Dengan mengangkat “kasih yang tak mengenal sekat” sebagai pijakan, Faridawaty berharap dunia bisa bergerak ke arah yang lebih inklusif, adil, dan penuh kasih.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk melihat diplomasi dari perspektif yang lebih luas—sebagai jembatan harapan bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran perhatian.
“Diplomasi tidak selalu harus lewat meja perundingan. Kadang, ia hadir lewat senyuman anak-anak, pelukan hangat, dan tangan yang mau membantu,” pungkasnya. (MARINI/j)









