BORNEONEWS, Banjarmasin - Jefry Albari Tribowo, dokter andrologi RSI Sultan Agung, Banjarbaru menjelaskan bahwa inseminasi bisa menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan, bagi pasangan yang sulit memdapatkan keturunan.
"Inseminasi disarankan untuk pasangan yang belum memiliki keturunan setelah mencoba melakukan kehamilan alami, dan tidak ditemukan kelainan-kelainan berat pada proses pemeriksaan. Data menunjukkan tingkat keberhasilan terjadinya kehamilan pada inseminasi berkisar antara 15-20%, dan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia pasangan, kualitas sperma, dan kualitas sel telur," tutur Jefry, Minggu, 13 Juli 2025.
Ada beberapa tahapan secara garis besar yang dijelaskan Jefry dalam proses inseminasi yaitu
Persiapan Awal Wanita, Pemeriksaan Hormon, Ultrasonography (USG), Hysterosalpingography (HSG)
"Setelah ketiga pemeriksaan tersebut telah selesai dikerjakan, dokter kandungan akan menilai apakah wanita tersebut dapat menjalani inseminasi atau tidak. Sebagai contoh, pada pemeriksaan HSG ternyata ditemukan kedua saluran tuba mengalami kebuntuan, maka wanita tersebut tidak bisa menjalani inseminasi. Namun, apabila yang buntu hanya satu sisi saja dan kondisi kesuburannya memungkinkan, maka inseminasi masih dapat tetap dipertimbangkan untuk dikerjakan," paparnya.
Pada beberapa keadaan, dapat ditemukan kelainan pada organ reproduksi wanita dari hasil pemeriksaan yang memerlukan penanganan terlebih dahulu sebelum menjalani inseminasi. Dalam kasus ini, maka wanita masih bisa menjalani inseminasi setelah menjalani pengobatan terlebih dahulu.
"Jika hasilnya pasien tersebut memenuhi syarat untuk menjalani inseminasi, maka wanita tersebut akan diberikan obat untuk merangsang sel telur lebih optimal. Pemberian obat ini ada yang dalam bentuk obat minum dan adapula dalam bentuk suntikan yang disuntikkan di perut. Obat tersebut akan diberikan dengan durasi 10-14 hari, setelah itu akan dievaluasi menggunakan USG untuk menentukan waktu pengerjaan inseminasi," jelasnya
Pada pria yang akan menjalani inseminasi maka pemeriksaan yang wajib dilakukan adalah pemeriksaan analisis sperma. Kriteria tersebut adalah konsentrasi sperma dan pergerakan sperma yang progressive. Idealnya kedua komponen tersebut harus normal, namun apabila hasilnya ditemukan jauh lebih rendah dari nilai acuan normal, maka akan dilakukan pemberian obat-obatan terlebih dahulu sambil kemudian dievaluasi perbaikan dari sperma. Apabila setelah pemberian obat-obatan hasil kualitas sperma masih tidak menunjukkan perbaikan yang optimal, maka inseminasi kurang disarankan.
Idealnya pria yang akan menjalani inseminasi harus memeriksakan spermanya di laboratorium atau rumah sakit tempat ia akan menjalani prosedur inseminasi. Hal ini bertujuan untuk membiasakan pria tersebut dengan ruangan tempat masturbasi pengeluaran sperma, sehingga saat hari H inseminasi ia tidak kesulitan untuk mengeluarkan sperma.
"Persiapan ini penting dilakukan, karena apabila pria sebelumnya tidak pernah melakukan masturbasi di ruangan tempat rumah sakit yang akan melakukan inseminasi, ada kemungkinan ia akan mengalami kesusahan saat hari inseminasi untuk mengeluarkan sperma. Bahkan terdapat kasus di mana inseminasi tidak dapat dilanjutkan karena sang pria kesulitan mengeluarkan sperma, padahal dari pihak wanita sudah siap dan mendapatkan obat-obatan penyubur dari dokter kandungan dan siap inseminasi," jelas Jefry.
Pelaksanaan Inseminasi
Saat hari ovulasi telah tiba, maka inseminasi akan dilakukan. Yang pertama harus datang lebih awal adalah pria untuk mengeluarkan sperma di ruangan masturbasi. Sperma yang telah dikeluarkan kemudian akan dilakukan proses pencucian oleh dokter andrologi. Proses pencucian ini bertujuan untuk mendapatkan sperma dengan kualitas terbaik yang kemudian akan dimasukkan ke dalam rahim. Lama dari proses pencucian sperma ini berkisar antara 60-120 menit.
"Setelah proses tersebut selesai, sperma akan dimasukkan ke dalam tabung yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh dokter kandungan. Wanita kemudian akan diarahkan ke dalam ruangan tindakan inseminasi, yang terletak di dalam poliklinik, dan dipersilakan duduk di kursi pemeriksaan khusus dengan posisi telentang, lutut ditekuk, dan paha membuka (posisi litotomi)," papar Jefry.
Dokter kandungan kemudian akan memasukkan alat berupa cocor bebek untuk membuka liang vagina wanita, kemudian sperma yang berada di dalam tabung akan dipindahkan ke dalam selang kecil. Selang inilah kemudian yang akan dimasukkan ke dalam liang vagina, dan disemprotkan isinya ke dalam. Proses inseminasi sperma ke dalam rahim biasanya berdurasi pendek kisaran 3-5 menit dan tanpa ada penggunaan pembiusan karena nyeri yang minimal.
Setelah proses inseminasi tersebut selesai, wanita dipersilahkan untuk beristirahat tirah baring di kasur selama kisaran 5-10 menit, dan setelah itu dipersilakan untuk kembali pulang ke rumah. Wanita juga akan diberikan obat-obatan oleh dokter kandungan untuk diminum selama 4 minggu guna mengoptimalkan terjadinya kehamilan.
"Apabila ternyata didapatkan hasil bahwa inseminasi belum berhasil, maka dapat dipertimbangkan untuk melakukan inseminasi ulangan kembali secara langsung atau selang beberapa bulan kemudian. Tindakan inseminasi ini disarankan paling banyak dilakukan sebanyak 3 kali, dan apabila setelah pengulangan tersebut belum juga didapatkan kehamilan maka sangat disarankan untuk menjalani program bayi tabung," ungkapnya. (SABRIANOOR/H)









