PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Psikolog klinis di RSJ Kalawa Atei Palangka Raya, Hestitami telah mengungkapkan bahwa gejala yang dialami pasien kecanduan judol mirip dengan pasien yang mengalami kecanduan game online dan belanja online yang masuknya dalam adiksi perilaku. 

"Sudah tahu itu merugikan tapi tetap dilakukan, karena dia merasa butuh itu (dopamin)," ungkapnya kepada Borneonews, Minggu, 13 Juni 2025.

Dijelaskannya pasien yang sudah dalam tahap adiksi akan sulit mengontrol diri sendiri. Mereka akan lebih mudah emosi, meninggalkan rutinitasnya, selalu memiliki keinginan untuk menang, sering berbohong, merusak, bahkan kepribadiannya berubah.

"Kasus judi online ini ketika sudah adiksi untuk memutusnya susah. Meski orangnya sudah sadar, karena harta bendanya habis, ada masalah kepercayaan di lingkungannya, tapi untuk memutusnya susah. Sampai depresi," paparnya.

Hestitami menambahkan, pasien judi online punya keyakinan jika bermain lagi akan menang, meski hasilnya selalu kalah, seperti halnya pasien kecanduan gadget ,dimana ia akan selalu mencari gadgetnya. Bahkan ada pasien yang rela melakukan kekerasan dan berbagai cara lain agar bisa mendapatkan gadgetnya kembali.

"Gangguan gadget (judi online, game online, dan belanja online) masuknya dalam adiksi perilaku. Sudah tahu itu merugikan tapi tetap dilakukan, karena dia merasa butuh itu," tutupnya. (SABRIANOOR/H)