BORNEONEWS, Sampit - Memasuki tahun ajaran baru, penjualan seragam sekolah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melonjak tajam. Para pedagang mencatat kenaikan omzet hingga berlipat-lipat dibandingkan hari-hari biasa, bahkan salah satu toko mengklaim meraup omzet hingga Rp50 juta per hari.
Kondisi tersebut dirasakan oleh Yuda Putra Yasni Adinata, pemilik Toko Student di Pasar Berdikari. Ia menyebut lonjakan permintaan sudah terjadi sejak lebih dari sepekan terakhir.
“Setiap hari sekarang kami bisa menjual lebih dari 200 lembar seragam. Kalau hari normal, biasanya hanya sekitar 50 lembar,” ujar Yuda, Senin, 14 Juli 2025.
Tak hanya volume penjualan, omzet juga ikut melonjak signifikan. Ia mengungkapkan, pendapatan toko bisa mencapai Rp50 juta per hari, atau naik hingga tujuh kali lipat dibandingkan hari biasa.
Jenis seragam yang paling dicari meliputi seragam Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), serta seragam pramuka. Selain itu, permintaan juga meningkat untuk perlengkapan pelengkap seperti topi, dasi, dan kostum profesi anak yang digunakan untuk kegiatan karnaval.
Menurut Yuda, kenaikan harga juga terjadi meskipun relatif kecil, berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per potong dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, seragam putri dijual dengan harga Rp165 ribu hingga Rp185 ribu, sedangkan seragam putra dibanderol Rp175 ribu hingga Rp195 ribu.
“Kadang ada yang sengaja jauh-jauh datang dari Pangkalan Bun, Seruyan, Lamandau, bahkan Palangka Raya karena sudah percaya dengan kualitas produk kami,” tambahnya.
Senada dengan Yuda, pedagang seragam lainnya di Pasar Berdikari, Kaspiati, juga merasakan lonjakan penjualan sejak awal Juli. Ia menyebut omzet tokonya meningkat antara 50 hingga 60 persen dibandingkan hari biasa.
“Menjelang tahun ajaran baru ini, omzet penjualan naik signifikan. Terutama dalam dua minggu terakhir, pembeli sangat ramai,” ujar Kaspiati.
Ia menambahkan bahwa lonjakan permintaan mencakup semua jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), SD, SMP, SMA, hingga Madrasah. Kaspiati tetap berupaya menjaga harga agar tetap terjangkau di tengah kebutuhan masyarakat yang meningkat.
“Saya ambil untung sedikit saja per lembar, yang penting barang cepat laku dan pembeli puas. Itu sudah cukup jadi tambahan modal untuk usaha,” ungkapnya. (Ari)









