SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Irfansyah, mengungkapkan bahwa ketimpangan jumlah pendaftar murid baru di sekolah dasar (SD) di wilayah perkotaan dan pelosok disebabkan oleh kondisi geografis dan kepadatan penduduk yang berbeda.

“Di wilayah yang lebih padat penduduknya, seperti Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, jumlah pendaftar memang lebih banyak. Sebaliknya, di daerah dengan kepadatan penduduk rendah, pendaftar juga minim,” kata Irfansyah, Selasa, 15 Juli 2025.

Irfansyah pun mencontohkan beberapa sekolah di pusat kota, seperti SDN 2 Mentawa Baru (MB) Hulu, yang menjadi sekolah dengan pendaftar terbanyak, yakni 100 anak. Diikuti oleh SDN 3 MB Hulu dengan 94 pendaftar, SDN 4 MB Hilir dengan 84 pendaftar, dan SDN 6 MB Hulu yang mencatatkan 63 pendaftar. Sementara itu, SDN 7 Baamang Tengah tercatat menerima 35 pendaftar. Angka ini mencerminkan dominasi minat masyarakat terhadap sekolah yang berlokasi di pusat kota.

Namun, kondisi berbeda terjadi di sejumlah sekolah di wilayah pelosok. Sekolah-sekolah seperti SDN 1 Tumbang Serawak, SDN 1 Samuda Besar, dan SDN 3 Samuda Besar tercatat tidak memiliki pendaftar sama sekali. SDN 1 Tumbang Bejanai hanya menerima satu pendaftar, sementara SDN 3 Mentaya Seberang mencatatkan tiga pendaftar.

“Sesungguhnya, semua sekolah setara. Semua sekolah di Kotim memiliki standar yang sama dan tidak ada lagi label sekolah favorit. Namun, faktor lokasi menjadi penyebab perbedaan minat masyarakat terhadap sekolah-sekolah tersebut,” jelas Irfansyah.

Pemerintah daerah, menurut Irfansyah, terus berupaya untuk mendorong pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah Kotim. Hal ini dilakukan agar anak-anak yang tinggal di daerah pelosok tetap mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan berkualitas, tanpa terbatas oleh jarak atau lokasi.

“Kami berkomitmen untuk menciptakan pemerataan pendidikan. Tujuannya agar anak-anak di wilayah terpencil juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

Dengan upaya ini, diharapkan ketimpangan pendaftar murid di SD Kotim bisa diminimalisir, dan semua anak, tanpa terkecuali, dapat memperoleh akses pendidikan yang setara.  (Ari)