BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) menghadapi tantangan dalam merekrut siswa untuk Sekolah Perintis yang akan didirikan di daerah setempat.
"Tahun ini proses belajar mengajar sudah bisa dilakukan, tetapi ada perubahan permintaan dari Kementerian Sosial. Mereka meminta adanya siswa dari tingkat SD," jelas Irawati, Selasa, 15 Juli 2025.
Sebelumnya, Kotim mengajukan sekolah rakyat atau perintis ini untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan kuota siswa sebanyak 100 orang. Namun, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial menginginkan adanya tingkat Sekola Dasar (SD).
"Akhirnya kami bagi dua, sesuai kemampuan daerah, yaitu 50 anak untuk SD dan 50 anak untuk SLTA. Kesulitan terbesar adalah mencari anak tingkat SD, karena mereka harus diasramakan. Orang tua merasa kurang tega meninggalkan anak mereka di asrama," ucapnya.
Lebih lanjut, Irawati menjelaskan, sampai saat ini, kami baru menemukan baru sekitar belasan anak yang siap untuk tingkat SD. Selain itu, Untuk tingkat SMA/SLTA pun belum genap 50 siswa.
"Proses rekrutmen ini tidak bisa sembarangan, karena harus sesuai dengan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Jika ditemukan ketidaksesuaian, berarti ada masalah di tingkat bawah. Kami akan melakukan penyandingan data dari PKH yang diberikan melalui Dinas Sosial dengan data dari Kemensos, karena mereka memiliki data yang lebih akurat," terangnya.
Pemkab Kotim masih berharap pada PKH untuk mencapai target siswa. Pihaknya juga menawarkan kepada masyarakat mulai dari katagori desil satu hingga empat dan seterusnya hingga desil tujuh.
"Jika target tidak terpenuhi, bukan berarti menghambat, tetapi menunjukkan kemampuan kita. Tentu ada konsekuensinya, kami dianggap tidak bekerja maksimal," ungkap Irawati. (DEVIANA/j)









