BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemkab Kotawaringin Barat (Kobar) memperingati Hari Koperasi ke-78 tahun 2025 dengan menggelar upacara di Lapangan Senggora, Kecamatan Kumai, Rabu, 16 Juli 2025. Mewakili Bupati Kobar Nurhidayah, Asisten I Setda Kobar Tengku Alisjahbana memimpin langsung kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Tengku Alisjahbana menegaskan bahwa semangat koperasi adalah semangat gotong royong dan kebersamaan yang tumbuh dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
"Ini bukan sekadar romantisme sejarah. Konstitusi kita, dalam Pasal 33 UUD 1945, dengan tegas menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan," jelas Tengku Alisjahbana.
Menurut Tengku Alisjahbana, koperasi adalah simbol nyata dari demokrasi ekonomi yang selama ini menjadi cita-cita bersama. Ia menekankan bahwa semua anggota koperasi memiliki hak suara yang sama, tanpa melihat seberapa besar modal yang ditanamkan.
"Setiap warga desa berhak ikut menentukan arah masa depannya bersama. Ini adalah jalan yang sedang kita tapaki menuju Indonesia Emas 2045—bukan hanya maju secara teknologi, tapi juga adil dan berdaulat secara ekonomi," jelas Tengku Alisjahbana.
Tengku Alisjahbana juga menyoroti pentingnya koperasi dalam upaya mewujudkan pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, khususnya melalui pengembangan koperasi desa dan kelurahan yang berbasiskan kearifan lokal.
"Inklusi ekonomi melalui koperasi sangat relevan dan strategis, terutama dalam sektor pertanian dan industri berbasis komunitas lokal," jelas Tengku Alisjahbana.
Tengku Alisjahbana menyebutkan bahwa berdasarkan data tahun 2024, jumlah koperasi aktif di Indonesia tercatat sebanyak 131.613 unit dengan anggota mencapai hampir 30 juta orang.
"Itu artinya satu dari sepuluh warga Indonesia adalah bagian dari koperasi,l. Bahkan volume usaha koperasi tahun lalu mencapai Rp214 triliun, menyumbang hampir 1 persen dari Produk Domestik Bruto nasional," jelas Tengku Alisjahbana.
Namun demikian, Tengku Alisjahbana mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Koperasi besar di dunia internasional telah lebih dahulu berkembang pesat, sementara Indonesia masih perlu mengejar ketertinggalan.
"Tapi kita tidak boleh apatis. Kita harus mendorong tumbuhnya koperasi besar dari desa-desa yang memiliki potensi besar, mulai dari pertanian, kerajinan, pariwisata, hingga energi terbarukan," jelas Tengku Alisjahbana.
Tengku Alisjahbana mengatakan, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Tengku menyebut bahwa terdapat lebih dari 84 ribu wilayah administratif setingkat desa di Indonesia, dengan sebagian besar masyarakatnya bergerak di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan.
"Inilah potensi yang harus kita kelola bersama. Karena semua itu hanya bisa menjadi kekuatan ekonomi bila dikelola secara kolektif," jelas Tengku Alisjahbana.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah, terhadap gerakan koperasi, menurut Tengku Alisjahbana, Presiden juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dan Keputusan Presiden tentang percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih.
"Koperasi Merah Putih ini adalah wujud nyata keberpihakan negara terhadap ekonomi kerakyatan," jelas Tengku Alisjahbana. (WAHYU KRIDA/H)









