PANGKALPINANG –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Menurut data RPJMN Kementrans 2025 - 2029 bahwa Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi salah satu wilayah dalam peta lokasi prioritas kawasan transmigrasi 2025 - 2029 di Kalimantan.

Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Kobar Yudie Hudaya melalui Kepala Bidang Transmigrasi, Elramit Christian menyebutkan sebanyak 5 desa yang menjadi Satuan Kawasan Pengembangan (SKP) yaitu Desa Rangda di Kecamatan Arut Selatan, Desa Lalang, Desa Rungun dan Desa Kondang di Kecamatan Kotawaringin Lama, serta Desa Tanjung Putri Kecamatan Arut Selatan.

Namun ia menyampaikan tidak semua desa yang disebutkan belum bisa direalisasikan karena terkait keterbatasan anggaran, sehingga nantinya area yang difokuskan menjadi kawasan transmigrasi akan direalisasikan secara bertahap.

"Jadi, kami akhirnya memfokuskan dulu di Desa Rangda, saat ini kita sudah masuk finalisasi tahap Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi," ujarnya, Kamis, 17 Juli 2025. 

Elramit mengatakan luas lahan yang tercantum dalam RTSP bahwa Desa Rangda memiliki luas kawasan sekitar 1.160 hektare yang mampu menampung 400 KK.

Dengan luas besaran luas lahan tersebut, rencana masyarakat transmigrasi yang menempati Desa Rangda sebanyak 60 persen dihuni oleh translokal dan sisanya akan ditempati oleh transmigrasi dari luar yang berasal dari wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Ia menjelaskan pembangunan kawasan di Desa Rangda ini butuh proses yang tidak instan. Dibutuhkan angggaran 85 miliiar sehingga saat ini Disnakertrans Kobar terus berkoordinasi dengan Kementerian Transmigrasi. 

"Kami menargetkan 2026 sudah mulai dilaksanakan bagi transmigrasi lokal, sedangkan untuk transmigrasi luar paling cepat 2027 baru bisa masuk, karena kami harus mempersiapkan bangunannya terlebih dahulu, karena sampai saat ini di Desa Rangda tidak ada listrik dan infrastruktur jalan pun masih belum memadai," jelasnya.

Kemudian Desa Rangka memiliki banyak potensi daerah dan di antarnya tanah yang subur, dikelilingi perkebunan sawit, kakao, kopi, serta sungai yang memiliki perikanan yang melimpah. Namun, pihaknya akan fokus untuk menguatkan di sektor pertanian. 

"Masyarakat Desa Rangda mendukung bahwa mereka yang menginginkan dan menjamin tidak ada gesekan antara transmigran lokal, jadi respon warga positif mereka justru berharap kedatangan para transmigran membawa perubahan kemajuan pada pembangunan desa," ungkapnya.

Tak hanya itu dia menyampaikan, Desa Rangda akan menjadi percontohan atau pilot project dalam pengembangan program nasional yang melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat transmigrasi luar daerah. 

"Kita berharap ada sinergi yang baik antar stakeholder terkait, baik di kabupaten, provinsi dan pusat, bagaimana pun juga transmigrasi ini sudah dinanti-nantikan khususnya oleh masyarakat Desa Rangda," ujarnya. (NURITA/R)